BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kegiatan
konsumsi pada pokoknya dideterminasi (ditetapkan) oleh pendapatan. Ketika
pendapatan bertambah maka konsumsi akan ikut bertambah sehingga Permintaan
Total (Aggregate Demand) dapat diperoleh. Sedangkan penawaran adalah
keseluruhan jumlah barang yang bersedia ditawarkan pada berbagai tingkat harga
tertentu dan waktu tertentu. Jika harga naik, jumlah barang yang ditawarkan
bertambah. Begitu juga ketika harga turun, maka jumlah barang yang ditawarkan
juga turun atau semakin sedikit.
Gambaran tentang permintaan total dan penawaran total berdampak terhadap
keseimbangan, baik itu penggambaran kurva IS, LM, Phillips dan lainnya.
Suku bunga merupakan salah satu variabel dalam perekonomian yang
senantiasa diamati secara cermat karena dampaknya yang luas. Ia mempengaruhi
secara langsung kehidupan masyarakat keseharian dan mempunya dampak penting
terhadap kesehatan perekonomian.Ia mempengaruhi keputusan seseorang atau rumah
tangga dalam mengkonsumsi, membeli rumah, membeli obligasi, atau menaruhnya
dalam rekening tabungan. Suku bunga juga mempengaruhi keputusan ekonomis bagi
pengusaha atau pimpinan perusahaan apakah akan melakukan investasi pada proyek
baru atau perluasan kapasitas.
Jadi dapat kita ketahui bersama ketika suku bunga tinggi, otomatis
orang akan lebih suka menyimpan uang mereka di bank karena ia akan mendapat
bunga yang tinggi. Sebaliknya jika suku bunga rendah masyarakat cenderung
tidak tertarik lagi untuk menyimpan uangnya di bank dan akan menarik dana
mereka yang ada di bank. Dalam hal ini ternyata tingkat suku bunga sangat
mempunyai pengaruh penting terhadap minat masyarakat terhadap dunia
perbankan. Hal ini berpengaruh juga terhadap investasi yang akan ditanamkan
pada sebuah sector usaha.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa yang di
maksud dengan kurva IS dan LM?
2.
Apa yang di
maksud dengan keseimbangan kurva IS dan LM?
3.
Bagaimana
keseimbangan kurva IS dan LM terjadi?
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui
apa itu kurva IS dan LM
2.
Untuk mengetahui
apa itu keseimbangan kurva IS dan LM.
3.
Untuk mengetahui
keseimbangan kurva IS dan LM terjadi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
KESEIMBANGAN
DI PASAR BARANG (IS)
Besar kecilnya
investasi nasional berdasarkan teori keynes sedikit banyak tergantung besar
kecilnya tingkat tabungan nasional yang perilakunya tergantung pada tingkat
suku bunga, sedangkan besar kecilnya tabungan bergantung dari besar kecilnya
tigkat pendpatan nasional, sehingga dalam pasar barang yang sangat berperan
adalah besar kecilnya tingkat tabungan dan investasi
tabungan
merupakan sisa dari pendapatan yang tidak di konsumsi ( S=Y-C) , yang dalam
jangka pendek fungsi tabungan itu adalah S = -Co + sY, dimana s adalah MPS
sedngkan investasi adalah pengeluaran secara sengaja dalaam rangka memperbesar
kapasitas produksi untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. Dan investasi yang
dibahas disini adalah investasi induced (bergantung
pada tingkat suku bunga) yang persamaan fungsinya dalm jangka pendek ialah
I=Io- er. Dimana e adalah ∆I/∆r = marginal
propensity of interest.
Dalam hal
tertentu memang tabungan bergantung pada
tingkat pendapatan, akan tetapi bila
persamaan tabungan kita ubah maka : bila S=-Co+sY akan menjadi Y=S/MPS=Co/MPS,
artinya besar kecilnya tingkat pendapatan sedemikian bergantung pada besar kecilnya
tingkat tabungan (dan konsumsi tentunya) yang ada.
Untuk
menyeimbangka pasar tersebut maka : bila S = -Co + sY dan I = Io – er,
keseimbangan terjadi bila I=S, sehingga : -Co + sY = Io – er
sY
= Io + Co – er → er = Io + Co – sY
dengan demikian
1. Pendapatan
nasional keseimbangan untuk pasr barang adalah :
Y =
2. Suku
bunga keseimbangan untuk pasar barang adalah :
r =
contoh
soal keseimbangan IS
Bila
misalkan pada suatu perekonomian Indonesia tahun 1998 fungsi konsumsinya adalah C =30 + 0,75Y, dan fungsi investasinya
adalah I = 10 – 0,5r, maka keseimbangan pasar
barang pada perekonomian tersebut akan terjadi bila pendapatan nasional
adalahsebagai berikut.
Bila
C = 30 = 0,75Y, maka S = -30 + 0,25Y
Penyelesaian
Y =
=
160 – 42 r → Y = 160 – 42 r
Persamaan keseimbangan
dalam pasar barang Y = 160 – 42r artinya
bila suku bunga naik sebesar 1 %, maka
pendapatan nasional akan berkurang sebesar Rp. 42, sebaliknya, bila suku
bunga turun sebesar 1% , maka pendapatan nasional akan meningkat atau bertambah
sebesar Rp 42. Selanjutnya, dari persamaan diatas dapat diubah menjadi
persamaan suku bunga keseimbangan, yaitu r
= 3,81 – 0,024Y. dari persamaan ini dapat dijelaskan bahwabila pendapatan nasional naik
sebesar Rp 1, maka suku bunga akan turun sebesar 0,024%, sebaliknya bila
pendapatan nasional turun sebesar Rp 1, maka suku bunga akan naik sebesar
0,024%
Bila persamaan
keseimbangan pasar barang terebut digambarkan dalam suatu grafik adalah sebagai
berikut
Gambar 15.1, tampak
bahwa kurva IS bersiope negatif, artiriya terdapat hubungan terbalik antara
tingkat pendapatan dan suku bunga, yaitu manakala suku bunga turun, maka
pendapatan nasional naik, sebaliknya, manakala suku bunga naik, maka pendàpatan
nasional turun.
Berdasarkan persamaan
di atas, maka dalam perekonomian Indonesia tahun 1.998 tersebut keseimbangan
pasar barang hanya akan terjadi pada batas suku bunga tertinggi berada pada
tingkat 3,81 % dan tingkat pendapatan tertinggi berada pada Rp. 160,-Dengan
demikian, bila terdapat suatu kekuatan baru yang mampu membawa tingkat suku
bunga berada di bawah 3,81 % dengan pendapatan nasional yang besarnya berada di
atas 160, maka perekonomian akan mengalami ketidakseimbangan sementara (berdasarkan
fungsi konsumsi dan investasi semula). Dengan demikian akan ditentukan angka
keseimbangan berikutnya. Untuk pembuktian, jika suku bunga sebesar 2%, maka Y
=160 - 42(1) =118 ,bila r =2% maka Y = 76, bila r = 2.5% maka Y = 55, bila r = 5%
maka Y = -50 dan seterusnya, bila angka ini dimasúkkan dalam persamaan
investasi dan tabungan, maka:
1. Untuk
r = 1% maka Y = 118 → S = -30 + 0,25 (118) = I = 10 - 10,5 (1) = -0,5.
2. Untuk
r = 2% makaY=76 → S= -30 + 0,25(76)= I =10 - 10,5(2)= -11.
3. Untuk
r = 2.5% maka Y =55 → = -30 + 0.25 (55) = I =10-10,5 (2,5) = -16,25.
4. Untuk
r = 5% maka Y = -50 →S = -30 + 0,25 (-50) = I = 10 - 10,5 (5) = 42,5.
5. Bila
Y = 170 maka r = -0.24(hanya contoh angka) → S = -30 + 0,25 (170)= I =12,5.
Perhatikan bahwa manakala suku bunga dari
tingkat pendapatan nasional seperti yang terdapat pada nomor 1 dan 2, maka I =
S. Artinva, terjadi keseimmbangan di pasar barang Akan tetapi, manakala suku
hunga herada di atas 3,81 %, seperti yang tertera pada nomor 4 dan 5, meskipun
I=S, tetapi keseimhangannya herada di luar batas garis kesepadanan IS
herdasarkan fungsi awalnva sehagaimana diperlihatkan dalam garnbar berikut.
Sebagaimana
yang dapat dilihat pada Gambar 15.2 tersebut tampak bahwa keseimbangan yang
disebabkan r >3.81 dan Y>160 berada pada garis kesepadanan IS diluar
kuadran I (koordinat negatif), yang dapat diartikan sebagai suatu yang maya
(tak real). Dengan demikian keseimbangan terbaik di pasar barang untuk kasus C=
30 + 0.7Y dan I = 10 - l0.5r adalah bila suku bunga antara 0 - 3.81 dan pendapatan
nasional antara 0 - 160 karena masih berada dalam garis kesepadanan IS dalam
kuadran I (kordinat positif).
Menurut
Mankiw, sebenarnya tidaklah dapat
dijelaskan adanya hubungan langsung antara suku bunga dan pendapatan nasional
sepanjang kurva IS tersebut. Jadi, kurva IS hanya menunjukkan fungsi antara r →
Y. Kurva IS dapat juga dibentuk dengan cara menurunkan kurva-kurva yang berkaitan,
seperti contoh berikut ini (lihat gambar 15.3).
Kuadran
I adalah kurva fungsi investasi yang berslope negatif, karena hubungan berbanding
terbalik antara suku bunga dan investasi. Sedangkan kuadran II adalah garis /
kurva kesepadanan (45º) yang menunjukan bahwa antara investasi dan tabungan mengalami
keseimbangan. Kuadran III adalah kurva
tingkat tabungan yang berasal dari pendapatan. Kurva ini berslope positif,
artinya manakala pendapatan rneningkat, maka tabungan juga akan meningkat dan
sebaliknya. Kuadran IV adalah kurva IS yang berslope negatif, yaitu
keseimbangan pendapatan nasional dan suku bunga dipasar barang.
B.
KESEIMBANGAN DI PASAR UANG (LM)
Menurut
Keynes dengan teori preferensi likuiditasnya permintaan akan uang terdiri atas
tiga motif, yaitu (1) motif transaksi, (2). berjaga-jaga, dan (3) spekulasi.
Motif transaksi dan berjaga-jaga =
tergantung
dan besar kecilnya tingkat pendapatan sedangkan motif spekulasi =
tergantung dan tingkat suku bunga. Total
permintaan uang adalah L =
+
, padahal :
L = -k1+
Y
+ k2 -
i
Besar kecilnya nilai L sepenuhnya
tergantung dan périlaku másyarakat sehubungan dengan tingkat pendapatan dan
suku bungayang berlaku di pasar, sedangkan besarnya peredaran ung tergantung
dan pemerintah, yaitu manakala pemerintah melakukan kebijakan yang bersifat
ekspansif, maka berarti pemerintah bisa saja memperbesar jumlah Uang (Ms) beredar baik dengan cara
memperbesar pengeluarannya (kebijakan fiskal)
maupun dengan mencetak uang (kebijakan moneter), sebaliknya, bila pernerintah melakukan kebijakan kontraksi, maka
pengetatan jumlah uang beredar biasanya dilakukan
apakah dengan cara mengurangi belanja negara, meningkatkan pungutan pajak, menarik peredaran uang, dan
semacamnya. Oleh karena kebijakan tersebut
sepenuhnya berasal dan pernerintah, maka besarnya nilai Ms bersifat otonorn
dalarn arti tidak terdapat suatu
variabel yang dapat mengubahnya.
Agar jumlah uang yang diedarkan pada
masyarakat sebanding dengan tingkat permintaannya,
maka perlu diketahui berapa besar tingkat pendapatan dan suku bunga yang ideal tersebut.Qleh karena
itu, keseimbangan jnj djsebut sebagai keseimbangan
pasar uang dan dinotasikan sebagai :
L.=Ms , LM
Dengan demikian, persamaan umum untuk
keseimbangan pasar uang dengan memasukkan variabel-variabelnya adalah:
M = -k1 +
Y
+ k2 -
i
Pendapatañ nasional keseimbangan untuk
pasar uang adalah:
M + mi - k2 + kl
Sedangkan untuk suku bunga keseimbangan
untuk pasar uang adalah:
i =
Contoh soal keseimbangan LM :
Bila misalkan dalam perekonornian
Indonesia tahun 1998 jumlah uang heredar sebesar Rp. 500, fungsi L1 = -40 +
0,5Y, dan L2 = 60 - 20i, maka pendapatan nasional keseimbangan untuk pasar uang
adalah:
Y =
=
=
Y = 960 + 40i
Sedangkan untuk tingkat bunga
keseimbangan pada pasar uang adalah sebagai berikut.
i
=
=
=
i = 0,025 Y - 24
Berdasarkan fungsi pendapatan nasional dan
bunga keseimbagan dalam pasar uang dapat diketahui bahwa bila suku bunga naik
sebesar 1%, maka pendapatan nasional akan bertamhah sebesar Rp. 40,- sebaliknya
bila suku bunga turun sebesar 1%, maka pendapatan nasional akan turun sebesar
Rp. 40,-. Sebaliknya, untuk suku bunga bila pendapatan nasional naik sebesar
Rp. 10,- maka suku bunga akan bertambah sebesar 0,25% dan bila pendapatan
nasional turun sebesar sebesar Rp. 10,-, maka suku bunga akan turun sebesar
0,25%, dan seterusnya.
Darì persamaan fungsi pendapatan
nasional dan suku bunga keseimbangan dapat dìketahui bahwa suku bunga dan
pendapa tan nasional tertinggi masing-masing adalah sebesar Rp. 960,- dan -24%
artinya manakala suku bunga sebesar 0% maka pendapatan nasional sehesar Rp.960,
dan bila suku bunga sebesar 1% maka Y = Rp. 1.000,- dan
Pada gambar 15.4, tampak bahwa kurva LM
berslope positive yang berarti terdapat hubungan bebanding lurus antara suku
bunga dan pendpatan, yaitu manakala suku bunga tinggi, maka pendapatan nasional
akan naik, sebaliknya manakala suku
bunga turun maka pendapatan nasional akan turun. Kurva LM dapat juga diturunkan
dengan bantuan kurva-kurva yang berhubungan sebagai berikut.
Kuadran I adalah kurva fungsi permintaan
uang untuk spekulasi yang berslope negative, yaitu manakala suku bunga tinggi
permintaan uang untuk spekulasi rendah, sebaliknya manakala suku bunga rendah
maka permintaan untuk spekulasi tinggi. Kuadran II adalah kurva penawaran uang
yaitu M = L1 + L2, nilai L2= M-L1 dan L1=M-L2 jadi bila M = 100 maka bila L1
= 40 maka L2 = 60 dan seterusnya
sehingga kurvanya berslope negative. Kuadran III adalah permintaan untuk
Transaksi dan berjaga-jaga. Kurvanya berslope positif karna bila pendapatan
tinggi maka permintaan untuk transaksi relative tinggi, sebaliknya jika
pendapatan rendah maka permintaan untuk transaksi relative rendah. Kuadran IV
adalah kurva LM berslope positif, yaitu kurva keseimbangan pendapatan nasional
dan suku bunga di pasar uang.
C.
KESEIMBANGAN
DI PASAR BARANG DAN PASAR UANG (IS-LM)
Bila diperhatikan kembali Gambar 15.1
dan 15.3 di atas, maka dapatlah kita ketahuì bahwa antara pasar barang dan
pasar uang terdapat suatu perbandingan yang kontradiktif, vaitu disatu sisi
untuk pasar barang pendapatan nasional dapat ditingkatkan dengan cara
menurunkan suku hunga. Akan tetapi, dengan menaikkan suku bunga tersebut di
pasar uang pendapatan justru akan menurun. Demikian juga sebaliknya vaitu
manakala pendapatan nasional meningkat untuk pasar uang, maka suku bunga juga
akan meningkat, yang bertentangan dengan suku hunga di pasar barang yang Justru
turun manakala pendapatan naik.
Bila mekanisme antara pasar barang dan
pasar uang dilepaskan tanpa kontrol, Maka kesepakatan permintaan uang dan
barang tentu saja tidak akan terjadi. Oleh karena itu, maka diperlukan suatu
kesepakatan mengenai tingkat bunga dan pendapatan yang moderat, yang dapat
diterima di pasar uang dan juga di pasar barang.
Untuk mendapatkan pendapatan nasional
dan suku bunga keseimbangan di pasar uang dan pasar barang, maka antara pasar barang
dan pasar uang harus saling bersepakat yang mana kesepakatan itu bila
dinotasikan dalam persamaan matematis adalah: IS = LM
Di mana fungsi IS untuk pendapatan
nasional keseimbangan tidak lain adalah Y= k - er dan fungsi LM untuk hal yang
sama adalah Y = k + mi, di mana r = i = suku bunga,
Contoh :
Bila diketahui pada perekonornian
Indonesia tahun 200X fungsi untuk keseimbangan pendapatan nasional pada pasar
barang adalah : Y = 160—421 —> (S= -30+0,25y dan I =10-10.r) sedangkan
fungsi untuk keseimbangan pendapatan nasional pada pasar uang adalah : Y =60+
40i —> (L1 = -40 + 0,5Y, L2 =60- 20i dan M = 50), maka keseimbangan IS = LM
adalah: 160 — 42i = Y = 60 + 40i dan dapat dijabarkan sebagai berikut:
160—60=82i
i = 100/82 = 1,22 —>1,22%
Y = 160-42(1,22) =60+40(1,22) = 108,8
Dengan demikian, besarnya suku bunga dan
pendapatan nasional keseimbangan untuk pasar barang dan uang pada tahun 1998
masing-masing adalah 1,22% dan Rp. 108,8,-. Berdasarkan angka tersebut, maka
diperoleh hasil sebagai berikut.
1. Besarnya tabungan adalah : S = -30 +
0.25 (108,8) = -2,8 .
2. Besarnya Investasi adalah : I = 10—
10,5 (1,22) = -2,8
3. Besarnya permintaan uang untuk
transaksi dan berjaga-jaga adalah: L1 = -40 +
0,5 (108,8) = 14,4
4. Besarnya permintaan uang untuk
spekulasi adalah : L2 = 60 - 20 (1,22) = 35,6
5. Jumlah Investasi sama dengan tabungan
(IS) = Rp. -2,8
6. Jumlah L1 + L2 = M (LM) = 50. .
Contoh-contoh perhitungan keseimbangan
IS=LM
1. Bila
diketahuj model perekonomian negara Kranji dengan satuan mata uang rupiah
adalah sebagai berikut.
C= 25 + 0,75Y, I = 50 - 12,5i, permintaan
uang untuk transaksi dan berjaga-jaga,
L1 = -50 + 0,5Y dan permintaan uang
untuk spekulasi, L2= 75 – 25i, sementara
jumlah uang yang beredar adalah
sebesar 75.
Hitunglah berapa besar suku bunga darcpendapatan
nasional keseimbangan yang terjadi di pasar uang dan pasar barang.
Jawab. .
Bila C =25+0,75 Y maka S = -25 + 0,25Y
sedangkan I=50 - 12,5i, L1 = -50 + 0,5Y,
L2 = 75 -25i, maka keseimbangan
masing-masing pasar sebagai berikut.
A.
Pasar barang
S = -25 + 0,25Y = I = 50- 12,5,i
0,25Y = 50 + 25- 12,5i ≠ 0,25Y = 75-
12,5i
Y = 75/0,25 - 12,5i/0,25
Y=300 - 50i.—> I = 6-0,02Y
B.
Pasar uang .
M = 75, L1 = -50 + 0,5Y, L2 = 75- 25i
M=L1+L2 .
75 = -50 + 0,5Y + 75 - 25i
0,5Y=75-75+50+25i—> 0,5Y=50+25i
Y = 50/0,5 + 25i/0,5
Y = 100 + 50i—> i = 0,02Y -2
C. Pasar Barang dan Uang
Karena fungsi pendapatan nasional
keseimbangan untuk pasar barang dan Pasar uang ielah diketahui, maka dapatlah
dihitung keseimbangan pasarnya yaitu : IS = LM, sehingga :
300-50i = Y = 100 + 50i atau 6- 0,02Y =
I = 0,02Y -2 → IS = LM .
100i = 200 atau 0,04Y = 8 .
i = 200/100 = 2% atau Y = 200
300 - 50 (2) =300-200 = 100 atau 300-
50i = 200 → 50i = 100 → i =2%
Dengan demikian, besarnya pendapatan
nasional keseimbangan untuk Negara Kranji adalah Rp.200,- dan suku bunga
keseimbangnnya adalah 2%. .
1.
Bila misalkan
dalam kasus yang sama suku bunga yang diberlakukan adalah sebesar 2,5% dan saat
berikutnya pendapatan nasional dinaikkan sebesar Rp. 100, tentukanlah apakah
terjadi keseimbangan di pasar barang dan pasar uang.
Jawab.
Bila suku bunga sebesar 2,5%, dan
pendapatan nasional sebesar Rp. 300,- (Rp.200 + 100 ), maka untuk pasar barang,
S = -25 + 0,25(300) = 50, dan I = 50 - 12,5(2,5) = 18,75≠I π S , padahal
bila suku bunga sebesar 2% dan pendapatan
nasional Rp. 200 adalah S = -25 +
0,25(200) = 25 dan I = 50 - 12,5 ( 2 ) = 25 → I ≠ S. jadi, jelas bila suku
bunga sebesar 2,5% dan pendapatan nasional sebesar Rp.300 tidak terjadi
keseimbangan di pasar barang,
Untuk pasar uang, L1 = -50 + 0,5 (300 )
=100 dan L2 = 75 - 25(2,5) =12,5 atau LI +L 2= 112,5, padahal M = 75, berarti
L1 + L2 ≠ M, sedangkan bila suku bunga sebesar 2% dan pendapatan nasional
sebesar Rp. 200,- adalah L1 = -50 + 0,5 (200) = 50 dan L2 = 75 - 25 (2) = 25,
dan L1 + L2 = 50 + 25 = 75 yang sarna dengan jumlah uang beredar, M sebesar Rp.
75,-.
Kesimpulannya adalah bila suku bunga
berada di atas atau di bawah 2% dan pendapatan nasional berada di atas atau di
bawah Rp. 200,- untuk kasus di atas, maka pasar uang dan pasar barang tidak
akan mengalami keseimbangan.
2.
Bila dalam
perekonomian yang sama ditetapkan uang beredar (dalam Rp. trilyun) ditamhah
sebesar 10%. Hitunglah berapa besar pendapatan nasional keseimbangan untuk
pasar barang dan pasar uang, cobalah Anda simpulkan hasil perhitungan tersebut.
Jawab
Uang beredar ditambah sebesar 10% dari
75, sehingga uang beredar yang diharapkan adalah sebesar 10% x 75 + 75 = 82,5,
sehingga persamaan untuk pasar uang adalah:
82,5 = -50 + 0,5Y + 75 – 25i
0,5Y = 82,5 + 50 - 75+ 25i →0,5Y = 57,5
+ 25i .
Y = 57,5/0,5 + 25/0,5 = 115 + 50i → LM
Fungsi pendapatan nasional keseimbangan
yang baru untuk pasar uang dan pasar barang adalah
300 - 50i = Y = 115 + 50i, .
300 - 501 = 115 +50i
100i=185
i = 1,85% —> Y = 300 - 50 (1,85) =
207,5 .
Kesimpulannya adalah bahwa bila uang
beredar ditambah, maka dalam perekonomian di negara Kranji tersebut
keseimbangan di pasar barang dan pasar uang mengalarni perubahan, yaitu suku
bunga mengalarni penurunan sebesar 0,15% sehingga menjadi sebesar l,85% dari
semula yang sebesar 2%, sedangkan pendapatan nasional mengalami peningkatan
sebesar Rp. 7,- yaitu dan Rp.200,- menjadi Rp. 207,-. Dengan dernikian bila
lain-lainnya tidak berubah yaitu pola investasi, konsumsi dan perrnintaan uang
maka penambahan jumlah uang beredar justru akan akan menambah pendapatan nasional
karena penurunan suku bunga.Dampaknya pada pasar barang adalah terjadinya
peningkatan tabungan (dari Rp. 25,- menjadi Rp 26,75) dan tentu saja. mengimbas
pada rnvestasi, narnun keseimbangan di pasar barang tidak berubah.
Dengan demikian kurva LM akan bergeser
ke kanan bawah seperti herikut.
D.
STUDI KASUS
BI Buka
Peluang Kembali Naikkan Suku Bunga Acuan
31 Jul 2018, 14:00 WIB
Liputan6.com,
Jakarta Bank Indonesia (BI) terus memutar
strategi demi menghadapi berbagai sentimen global yang menjadikan ekonomi
Indonesia turut terpengaruh. Beberapa waktu lalu, BI telah menaikkan suku bunga
acuan langsung 50 basis poin menjadi 5,25 persen.
Apakah suku
bunga saat ini sudah cukup?
Kepala Grup
Riset Makroprudensial Departemen Kebijakan Makro Prudensial BI, Retno Ponco
Windarti menjelaskan sentimen kenaikan bunga oleh The Fed masih bakal terjadi
sampai akhir tahun 2018. Untuk itu, dia memastikan BI tetap membuka peluang
untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya jika memang peluang tersebut memungkinkan.
"Kami
tidak menutup kemungkinan untuk itu (menaikkan bunga acuan), kalau ada peluang
kenaikkan akan dilakukan," kata Retno di Jakarta, Selasa (31/7/2018).
Pada tahun ini,
Bank Indonesia sudah memiliki strategi jika The Fed benar-benar menaikkan suku
bunga acuan sebanyak 4 kali. Jumlah ini lebih banyak jika dibandingkan prediksi
sebelumnya yang hanya 3 kali sepanjang 2018. Meski demikian, Retno menegaskan
jika nantinya suku bunga naik, BI akan mengimbangi dengan
memberikan kebijakan yang bersifat stimulus, seperti sebelumnya
kelonggaran Loan to Value (LTV).
"Yang
pasti secara bilateral setiap ada jamu pahit juga ada jamu manis,"
tambahnya.
Rapat
Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan Bank
Indonesia (BI) 7-day Reverse Repo Rate atau suku bunga acuan pada angka 5,25
persen. BI juga menahan suku bunga Deposit Facility di angka 4,50 persen dan
Lending Facility di angka 6,00 persen.
Gubernur
BI Perry Warjiyo mengatakan, kebijakan untuk menahan suku bunga acuan
diambil sebab kenaikan sebelumnya dinilai sudah cukup kompetitif.
"Karena
kami pandang kenaikan yang selama ini kita sudah lakukan totalnya 100 basis
point (bps) itu kami pandang bahwa suku bunga itu sudah cukup kompetitif di
dalam memberika ruang bagi masuknya modal asing," kata Perry, di Kantor
BI, Jakarta Pusat, Kamis (19/7/2018).
Perry
menegaskan BI akan tetap fokus menjaga stabilitas ekonomi Indonesia, khususnya
stabilitas nilai tukar rupiah.
Oleh
sebab itu, dia menyatakan akan terus memantau semua perkembangan yang terjadi
baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.
"Tentu
saja ke depan akan kami evaluasi lagi secaran bulan ke bulan. Dan ke depan
tentu saja akan terus memantau berbagai perkembangan ekonomi di dalam maupun luar
negeri," ujarnya.
Selain
itu, BI juga akan memantau arah kebijakan
bank sentral Amerika Serikat atau The Fed yang diprediksi masih akan melakukan
dua kali kenaika suku bunga di tahun ini dan tiga kali kenaikan pada tahun
depan.
"Kenaikan
The Fed akan kami pantau bulan ke bulannya. Kami juga akan pantau bagaimana
tren dari yield obligasi pemerintah AS seberapa jauh ke depan."
tutup dia.
Reporter:
Yayu Agustini Rahayu
Sumber:
Merdeka.com
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
1.
Pasar barang adalah pasar dimana semua barang dan jasa yang diproduksi oleh
suatu negara dan dalam jangka waktu tertentu. Permintaan dalam pasar
barang merupakan agregasi dari semua permintaan akan barang dan jasa di dalam
negeri, sementara yang menjadi penawarannya adalah semua barang dan jasa yang
diproduksi dalam negeri. kurva IS menunjukkan kombinasi dari tingkat bunga dan
tingkat pendapatan yang konsisten dengan keseimbangan dalam pasar untuk barang
dan jasa. Perubahan-perubahan dalam kebijakan fiskal yang meningkatkan
permintaan terhadap barang dan jasa menggeser kurva IS ke kanan.
Perubahan-perubahan dalam kebijakan fiskal yang mengurangi permintaan terhadap
barang dan jasa menggeser kurva IS ke kiri.
2.
Hubungan antara tingkat bunga dan tingkat pendapatan yang muncul di pasar
uang dinyatakan dengan Kurva LM.Tingkat pendapatan mempengaruhi permintaan
terhadap uang. Ketika pendapatan tinggi, pengeluaran juga tinggi, sehingga
masyarakat terlibat dalam lebih banyak transaksi yang mensyaratkan penggunaan
uang. Jadi, uang yang lebih banyak menunjukkan permintaan uang yang lebih
besar.
Kurva LM menunjukkan kombinasi tingkat bunga dan tingkat pendapatan yang konsisten
dengan keseimbangan dalam pasar untuk keseimbangan uang riil. Kurva LM digambar
untuk penawaran dari keseimbangan uang riil tertentu. Penurunan dalam penawaran
dari keseimbangan uang riil menggeser kurva LM ke atas. Kenaikan dalam
penawaran dari keseimbangan uang riil menggeser kurva LM ke bawah.
3.
Keseimbangan perekonomian adalah titik dimana kurva IS dan LM berpotongan.
Titik ini memberikan tingkat bunga r dan tingkat pendapatan Y yang memenuhi
kondisi untuk keseimbangan baik dalam pasar barang maupun pasar uang. Dengan
kata lain, pada perpotongan ini pengeluaran aktual sama dengan pengeluaran yang
direncanakan, dan permintaan terhadap keseimbangan uang riil sama dengan
penawarannya.
No comments:
Post a Comment