Monday, October 28, 2019

PASAR UANG, PASAR BARANG, DAN KESEIMBANGAN IS-LM


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
            Kegiatan konsumsi pada pokoknya dideterminasi (ditetapkan) oleh pendapatan. Ketika pendapatan bertambah maka konsumsi akan ikut bertambah sehingga Permintaan Total (Aggregate Demand) dapat diperoleh. Sedangkan penawaran adalah keseluruhan jumlah barang yang bersedia ditawarkan pada berbagai tingkat harga tertentu dan waktu tertentu. Jika harga naik, jumlah barang yang ditawarkan bertambah. Begitu juga ketika harga turun, maka jumlah barang yang ditawarkan juga turun atau semakin sedikit. 
            Gambaran tentang permintaan total dan penawaran total berdampak terhadap keseimbangan, baik itu penggambaran kurva IS, LM, Phillips dan lainnya.
            Suku bunga merupakan salah satu variabel dalam perekonomian yang senantiasa diamati secara cermat karena dampaknya yang luas. Ia mempengaruhi secara langsung kehidupan masyarakat keseharian dan mempunya dampak penting terhadap kesehatan perekonomian.Ia mempengaruhi keputusan seseorang atau rumah tangga dalam mengkonsumsi, membeli rumah, membeli obligasi, atau menaruhnya dalam rekening tabungan. Suku bunga juga mempengaruhi keputusan ekonomis bagi pengusaha atau pimpinan perusahaan apakah akan melakukan investasi pada proyek baru atau perluasan kapasitas.
            Jadi dapat kita ketahui bersama ketika suku bunga tinggi, otomatis orang akan lebih suka menyimpan uang mereka di bank karena ia akan mendapat bunga yang tinggi. Sebaliknya jika suku bunga rendah masyarakat cenderung tidak tertarik lagi untuk menyimpan uangnya di bank dan akan menarik dana mereka yang ada di bank. Dalam hal ini ternyata tingkat suku bunga sangat mempunyai pengaruh penting terhadap minat masyarakat terhadap dunia perbankan. Hal ini berpengaruh juga terhadap investasi yang akan ditanamkan pada sebuah sector usaha.




B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang di maksud dengan kurva IS dan LM?
2.      Apa yang di maksud dengan keseimbangan kurva IS dan LM?
3.      Bagaimana keseimbangan kurva IS dan LM terjadi?

C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui apa itu kurva IS dan LM
2.      Untuk mengetahui apa itu keseimbangan kurva IS dan LM.
3.      Untuk mengetahui keseimbangan kurva IS dan LM terjadi.



BAB II
PEMBAHASAN

A.     KESEIMBANGAN DI PASAR BARANG (IS)

Besar kecilnya investasi nasional berdasarkan teori keynes sedikit banyak tergantung besar kecilnya tingkat tabungan nasional yang perilakunya tergantung pada tingkat suku bunga, sedangkan besar kecilnya tabungan bergantung dari besar kecilnya tigkat pendpatan nasional, sehingga dalam pasar barang yang sangat berperan adalah besar kecilnya tingkat tabungan dan investasi
tabungan merupakan sisa dari pendapatan yang tidak di konsumsi ( S=Y-C) , yang dalam jangka pendek fungsi tabungan itu adalah S = -Co + sY, dimana s adalah MPS sedngkan investasi adalah pengeluaran secara sengaja dalaam rangka memperbesar kapasitas produksi untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. Dan investasi yang dibahas disini adalah investasi induced (bergantung pada tingkat suku bunga) yang persamaan fungsinya dalm jangka pendek ialah I=Io- er. Dimana e adalah ∆I/∆r = marginal propensity of interest.
Dalam hal tertentu memang  tabungan bergantung pada tingkat pendapatan, akan tetapi  bila persamaan tabungan kita ubah maka : bila S=-Co+sY akan menjadi Y=S/MPS=Co/MPS, artinya besar kecilnya tingkat pendapatan sedemikian bergantung pada besar kecilnya tingkat tabungan (dan konsumsi tentunya) yang ada.
Untuk menyeimbangka pasar tersebut maka : bila S = -Co + sY dan I = Io – er, keseimbangan terjadi bila I=S, sehingga : -Co + sY = Io – er
sY =  Io + Co – er → er = Io + Co – sY
dengan demikian
1.      Pendapatan nasional keseimbangan untuk pasr barang adalah :
Y =
2.      Suku bunga keseimbangan untuk pasar barang adalah :
r =
contoh soal keseimbangan IS
Bila misalkan pada suatu perekonomian Indonesia tahun 1998  fungsi konsumsinya adalah    C =30 + 0,75Y, dan fungsi investasinya adalah I = 10 – 0,5r, maka keseimbangan pasar  barang pada perekonomian tersebut akan terjadi bila pendapatan nasional adalahsebagai berikut.
Bila C = 30 = 0,75Y, maka S = -30 + 0,25Y
      Penyelesaian
Y =    = 160 – 42 r → Y = 160 – 42 r
Persamaan keseimbangan dalam pasar  barang Y = 160 – 42r artinya bila suku bunga naik sebesar 1 %, maka  pendapatan nasional akan berkurang sebesar Rp. 42, sebaliknya, bila suku bunga turun sebesar 1% , maka pendapatan nasional akan meningkat atau bertambah sebesar Rp 42. Selanjutnya, dari persamaan diatas dapat diubah menjadi persamaan suku bunga keseimbangan, yaitu r  = 3,81 – 0,024Y. dari persamaan ini dapat  dijelaskan bahwabila pendapatan nasional naik sebesar Rp 1, maka suku bunga akan turun sebesar 0,024%, sebaliknya bila pendapatan nasional turun sebesar Rp 1, maka suku bunga akan naik sebesar 0,024%
Bila persamaan keseimbangan pasar barang terebut digambarkan dalam suatu grafik adalah sebagai berikut

 










Gambar 15.1, tampak bahwa kurva IS bersiope negatif, artiriya terdapat hubungan terbalik antara tingkat pendapatan dan suku bunga, yaitu manakala suku bunga turun, maka pendapatan nasional naik, sebaliknya, manakala suku bunga naik, maka pendàpatan nasional turun.
Berdasarkan persamaan di atas, maka dalam perekonomian Indonesia tahun 1.998 tersebut keseimbangan pasar barang hanya akan terjadi pada batas suku bunga tertinggi berada pada tingkat 3,81 % dan tingkat pendapatan tertinggi berada pada Rp. 160,-Dengan demikian, bila terdapat suatu kekuatan baru yang mampu membawa tingkat suku bunga berada di bawah 3,81 % dengan pendapatan nasional yang besarnya berada di atas 160, maka perekonomian akan mengalami ketidakseimbangan sementara (berdasarkan fungsi konsumsi dan investasi semula). Dengan demikian akan ditentukan angka keseimbangan berikutnya. Untuk pembuktian, jika suku bunga sebesar 2%, maka Y =160 - 42(1) =118 ,bila r =2% maka Y = 76, bila r = 2.5% maka Y = 55, bila r = 5% maka Y = -50 dan seterusnya, bila angka ini dimasúkkan dalam persamaan investasi dan tabungan, maka:
1.      Untuk r = 1% maka Y = 118 → S = -30 + 0,25 (118) = I = 10 - 10,5 (1) = -0,5.
2.      Untuk r = 2% makaY=76 → S= -30 + 0,25(76)= I =10 - 10,5(2)= -11.
3.      Untuk r = 2.5% maka Y =55 → = -30 + 0.25 (55) = I =10-10,5 (2,5) = -16,25.
4.      Untuk r = 5% maka Y = -50 →S = -30 + 0,25 (-50) = I = 10 - 10,5 (5) = 42,5.
5.      Bila Y = 170 maka r = -0.24(hanya contoh angka) → S = -30 + 0,25 (170)= I =12,5.
 Perhatikan bahwa manakala suku bunga dari tingkat pendapatan nasional seperti yang terdapat pada nomor 1 dan 2, maka I = S. Artinva, terjadi keseimmbangan di pasar barang Akan tetapi, manakala suku hunga herada di atas 3,81 %, seperti yang tertera pada nomor 4 dan 5, meskipun I=S, tetapi keseimhangannya herada di luar batas garis kesepadanan IS herdasarkan fungsi awalnva sehagaimana diperlihatkan dalam garnbar berikut.
 

     








Sebagaimana yang dapat dilihat pada Gambar 15.2 tersebut tampak bahwa keseimbangan yang disebabkan r >3.81 dan Y>160 berada pada garis kesepadanan IS diluar kuadran I (koordinat negatif), yang dapat diartikan sebagai suatu yang maya (tak real). Dengan demikian keseimbangan terbaik di pasar barang untuk kasus C= 30 + 0.7Y dan I = 10 - l0.5r adalah bila suku bunga antara 0 - 3.81 dan pendapatan nasional antara 0 - 160 karena masih berada dalam garis kesepadanan IS dalam kuadran I (kordinat positif).
Menurut Mankiw, sebenarnya tidaklah dapat dijelaskan adanya hubungan langsung antara suku bunga dan pendapatan nasional sepanjang kurva IS tersebut. Jadi, kurva IS hanya menunjukkan fungsi antara r → Y. Kurva IS dapat juga dibentuk dengan cara menurunkan kurva-kurva yang berkaitan, seperti contoh berikut ini (lihat gambar 15.3).
Kuadran I adalah kurva fungsi investasi yang berslope negatif, karena hubungan berbanding terbalik antara suku bunga dan investasi. Sedangkan kuadran II adalah garis / kurva kesepadanan (45º) yang menunjukan bahwa antara investasi dan tabungan mengalami keseimbangan.     Kuadran III adalah kurva tingkat tabungan yang berasal dari  pendapatan. Kurva ini berslope positif, artinya manakala pendapatan rneningkat, maka tabungan juga akan meningkat dan sebaliknya. Kuadran IV adalah kurva IS yang berslope negatif, yaitu keseimbangan pendapatan nasional dan suku bunga dipasar barang.
 










B.     KESEIMBANGAN DI PASAR UANG (LM)
            Menurut Keynes dengan teori preferensi likuiditasnya permintaan akan uang terdiri atas tiga motif, yaitu (1) motif transaksi, (2). berjaga-jaga, dan (3) spekulasi. Motif transaksi dan berjaga-jaga =  tergantung dan besar kecilnya tingkat pendapatan sedangkan motif spekulasi =    tergantung dan tingkat suku bunga. Total permintaan uang adalah L =  +  , padahal :
  = -k +  Y  dan   = k2 -  i , —> k adalah konstanta, sehingga :
L = -k1+  Y + k2 -  i
Besar kecilnya nilai L sepenuhnya tergantung dan périlaku másyarakat sehubungan dengan tingkat pendapatan dan suku bungayang berlaku di pasar, sedangkan besarnya peredaran ung tergantung dan pemerintah, yaitu manakala pemerintah melakukan kebijakan yang bersifat ekspansif, maka berarti pemerintah bisa saja memperbesar jumlah Uang (Ms) beredar baik dengan cara memperbesar pengeluarannya (kebijakan fiskal) maupun dengan mencetak uang (kebijakan moneter), sebaliknya, bila pernerintah melakukan kebijakan kontraksi, maka pengetatan jumlah uang beredar biasanya dilakukan apakah dengan cara mengurangi belanja negara, meningkatkan pungutan pajak, menarik peredaran uang, dan semacamnya. Oleh karena kebijakan tersebut sepenuhnya berasal dan pernerintah, maka besarnya nilai Ms bersifat otonorn dalarn arti tidak terdapat suatu variabel yang dapat mengubahnya.
Agar jumlah uang yang diedarkan pada masyarakat sebanding dengan tingkat permintaannya, maka perlu diketahui berapa besar tingkat pendapatan dan suku bunga yang ideal tersebut.Qleh karena itu, keseimbangan jnj djsebut sebagai keseimbangan pasar uang dan dinotasikan sebagai :
L.=Ms , LM
Dengan demikian, persamaan umum untuk keseimbangan pasar uang dengan memasukkan variabel-variabelnya adalah:
M = -k1 +  Y + k2 -  i
Pendapatañ nasional keseimbangan untuk pasar uang adalah:
       M + mi - k2 + kl
Sedangkan untuk suku bunga keseimbangan untuk pasar uang adalah:
i =
Contoh soal keseimbangan LM :
Bila misalkan dalam perekonornian Indonesia tahun 1998 jumlah uang heredar sebesar Rp. 500, fungsi L1 = -40 + 0,5Y, dan L2 = 60 - 20i, maka pendapatan nasional keseimbangan untuk pasar uang adalah:
Y =  =  = Y = 960 + 40i
Sedangkan untuk tingkat bunga keseimbangan pada pasar uang adalah sebagai berikut.
 i =  =  = i = 0,025 Y - 24
 Berdasarkan fungsi pendapatan nasional dan bunga keseimbagan dalam pasar uang dapat diketahui bahwa bila suku bunga naik sebesar 1%, maka pendapatan nasional akan bertamhah sebesar Rp. 40,- sebaliknya bila suku bunga turun sebesar 1%, maka pendapatan nasional akan turun sebesar Rp. 40,-. Sebaliknya, untuk suku bunga bila pendapatan nasional naik sebesar Rp. 10,- maka suku bunga akan bertambah sebesar 0,25% dan bila pendapatan nasional turun sebesar sebesar Rp. 10,-, maka suku bunga akan turun sebesar 0,25%, dan seterusnya.
Darì persamaan fungsi pendapatan nasional dan suku bunga keseimbangan dapat dìketahui bahwa suku bunga dan pendapa tan nasional tertinggi masing-masing adalah sebesar Rp. 960,- dan -24% artinya manakala suku bunga sebesar 0% maka pendapatan nasional sehesar Rp.960, dan bila suku bunga sebesar 1% maka Y = Rp. 1.000,- dan
manakala Y = 0, maka i = -24%.







Pada gambar 15.4, tampak bahwa kurva LM berslope positive yang berarti terdapat hubungan bebanding lurus antara suku bunga dan pendpatan, yaitu manakala suku bunga tinggi, maka pendapatan nasional akan  naik, sebaliknya manakala suku bunga turun maka pendapatan nasional akan turun. Kurva LM dapat juga diturunkan dengan bantuan kurva-kurva yang berhubungan sebagai berikut.
Kuadran I adalah kurva fungsi permintaan uang untuk spekulasi yang berslope negative, yaitu manakala suku bunga tinggi permintaan uang untuk spekulasi rendah, sebaliknya manakala suku bunga rendah maka permintaan untuk spekulasi tinggi. Kuadran II adalah kurva penawaran uang yaitu M = L1 + L2, nilai L2= M-L1 dan L1=M-L2 jadi bila M = 100 maka bila L1 =  40 maka L2 = 60 dan seterusnya sehingga kurvanya berslope negative. Kuadran III adalah permintaan untuk Transaksi dan berjaga-jaga. Kurvanya berslope positif karna bila pendapatan tinggi maka permintaan untuk transaksi relative tinggi, sebaliknya jika pendapatan rendah maka permintaan untuk transaksi relative rendah. Kuadran IV adalah kurva LM berslope positif, yaitu kurva keseimbangan pendapatan nasional dan suku bunga di pasar uang.
 














C.    KESEIMBANGAN DI PASAR BARANG DAN PASAR UANG (IS-LM)
Bila diperhatikan kembali Gambar 15.1 dan 15.3 di atas, maka dapatlah kita ketahuì bahwa antara pasar barang dan pasar uang terdapat suatu perbandingan yang kontradiktif, vaitu disatu sisi untuk pasar barang pendapatan nasional dapat ditingkatkan dengan cara menurunkan suku hunga. Akan tetapi, dengan menaikkan suku bunga tersebut di pasar uang pendapatan justru akan menurun. Demikian juga sebaliknya vaitu manakala pendapatan nasional meningkat untuk pasar uang, maka suku bunga juga akan meningkat, yang bertentangan dengan suku hunga di pasar barang yang Justru turun manakala pendapatan naik.
Bila mekanisme antara pasar barang dan pasar uang dilepaskan tanpa kontrol, Maka kesepakatan permintaan uang dan barang tentu saja tidak akan terjadi. Oleh karena itu, maka diperlukan suatu kesepakatan mengenai tingkat bunga dan pendapatan yang moderat, yang dapat diterima di pasar uang dan juga di pasar barang.
Untuk mendapatkan pendapatan nasional dan suku bunga keseimbangan di pasar uang dan pasar barang, maka antara pasar barang dan pasar uang harus saling bersepakat yang mana kesepakatan itu bila dinotasikan dalam persamaan matematis adalah: IS = LM
Di mana fungsi IS untuk pendapatan nasional keseimbangan tidak lain adalah Y= k - er dan fungsi LM untuk hal yang sama adalah Y = k + mi, di mana r = i = suku bunga,
Contoh :
Bila diketahui pada perekonornian Indonesia tahun 200X fungsi untuk keseimbangan pendapatan nasional pada pasar barang adalah : Y = 160—421 —> (S= -30+0,25y dan I =10-10.r) sedangkan fungsi untuk keseimbangan pendapatan nasional pada pasar uang adalah : Y =60+ 40i —> (L1 = -40 + 0,5Y, L2 =60- 20i dan M = 50), maka keseimbangan IS = LM adalah: 160 — 42i = Y = 60 + 40i dan dapat dijabarkan sebagai berikut:
160—60=82i
i = 100/82 = 1,22 —>1,22%
Y = 160-42(1,22) =60+40(1,22) = 108,8
Dengan demikian, besarnya suku bunga dan pendapatan nasional keseimbangan untuk pasar barang dan uang pada tahun 1998 masing-masing adalah 1,22% dan Rp. 108,8,-. Berdasarkan angka tersebut, maka diperoleh hasil sebagai berikut.
1. Besarnya tabungan adalah : S = -30 + 0.25 (108,8) = -2,8 .
2. Besarnya Investasi adalah : I = 10— 10,5 (1,22) = -2,8
3. Besarnya permintaan uang untuk transaksi dan berjaga-jaga adalah: L1 = -40 +
    0,5 (108,8) = 14,4
4. Besarnya permintaan uang untuk spekulasi adalah : L2 = 60 - 20 (1,22) = 35,6
5. Jumlah Investasi sama dengan tabungan (IS) = Rp. -2,8
6. Jumlah L1 + L2 = M (LM) = 50. .
 









Contoh-contoh perhitungan keseimbangan IS=LM
1.      Bila diketahuj model perekonomian negara Kranji dengan satuan mata uang rupiah adalah sebagai berikut.
C= 25 + 0,75Y, I = 50 - 12,5i, permintaan uang untuk transaksi dan berjaga-jaga,
L1 = -50 + 0,5Y dan permintaan uang untuk spekulasi, L2= 75 – 25i, sementara  jumlah uang   yang beredar adalah sebesar 75.
Hitunglah berapa besar suku bunga darcpendapatan nasional keseimbangan yang terjadi di pasar uang dan pasar barang.
Jawab. .
Bila C =25+0,75 Y maka S = -25 + 0,25Y sedangkan I=50 - 12,5i, L1 = -50 + 0,5Y,
L2 = 75 -25i, maka keseimbangan masing-masing pasar sebagai berikut.
A.    Pasar barang
S = -25 + 0,25Y = I = 50- 12,5,i
0,25Y = 50 + 25- 12,5i ≠ 0,25Y = 75- 12,5i
Y = 75/0,25 - 12,5i/0,25
Y=300 - 50i.—> I = 6-0,02Y
B.     Pasar uang .
M = 75, L1 = -50 + 0,5Y, L2 = 75- 25i
M=L1+L2 .
75 = -50 + 0,5Y + 75 - 25i
0,5Y=75-75+50+25i—> 0,5Y=50+25i
Y = 50/0,5 + 25i/0,5
Y = 100 + 50i—> i = 0,02Y -2 
C. Pasar Barang dan Uang
Karena fungsi pendapatan nasional keseimbangan untuk pasar barang dan Pasar uang ielah diketahui, maka dapatlah dihitung keseimbangan pasarnya yaitu : IS = LM, sehingga :
300-50i = Y = 100 + 50i atau 6- 0,02Y = I = 0,02Y -2 → IS = LM .
100i = 200 atau 0,04Y = 8 .
i = 200/100 = 2% atau Y = 200
300 - 50 (2) =300-200 = 100 atau 300- 50i = 200 → 50i = 100 → i =2%
Dengan demikian, besarnya pendapatan nasional keseimbangan untuk Negara Kranji adalah Rp.200,- dan suku bunga keseimbangnnya adalah 2%. .
1.      Bila misalkan dalam kasus yang sama suku bunga yang diberlakukan adalah sebesar 2,5% dan saat berikutnya pendapatan nasional dinaikkan sebesar Rp. 100, tentukanlah apakah terjadi keseimbangan di pasar barang dan pasar uang.
Jawab.
Bila suku bunga sebesar 2,5%, dan pendapatan nasional sebesar Rp. 300,- (Rp.200 + 100 ), maka untuk pasar barang, S = -25 + 0,25(300) = 50, dan I = 50 - 12,5(2,5) = 18,75≠I π S , padahal bila  suku bunga sebesar 2% dan pendapatan nasional Rp. 200 adalah  S = -25 + 0,25(200) = 25 dan I = 50 - 12,5 ( 2 ) = 25 → I ≠ S. jadi, jelas bila suku bunga sebesar 2,5% dan pendapatan nasional sebesar Rp.300 tidak terjadi keseimbangan di pasar barang,
Untuk pasar uang, L1 = -50 + 0,5 (300 ) =100 dan L2 = 75 - 25(2,5) =12,5 atau LI +L 2= 112,5, padahal M = 75, berarti L1 + L2 ≠ M, sedangkan bila suku bunga sebesar 2% dan pendapatan nasional sebesar Rp. 200,- adalah L1 = -50 + 0,5 (200) = 50 dan L2 = 75 - 25 (2) = 25, dan L1 + L2 = 50 + 25 = 75 yang sarna dengan jumlah uang beredar, M sebesar Rp. 75,-.
Kesimpulannya adalah bila suku bunga berada di atas atau di bawah 2% dan pendapatan nasional berada di atas atau di bawah Rp. 200,- untuk kasus di atas, maka pasar uang dan pasar barang tidak akan mengalami keseimbangan.
2.      Bila dalam perekonomian yang sama ditetapkan uang beredar (dalam Rp. trilyun) ditamhah sebesar 10%. Hitunglah berapa besar pendapatan nasional keseimbangan untuk pasar barang dan pasar uang, cobalah Anda simpulkan hasil perhitungan tersebut.
Jawab
Uang beredar ditambah sebesar 10% dari 75, sehingga uang beredar yang diharapkan adalah sebesar 10% x 75 + 75 = 82,5, sehingga persamaan untuk pasar uang adalah:
82,5 = -50 + 0,5Y + 75 – 25i
0,5Y = 82,5 + 50 - 75+ 25i →0,5Y = 57,5 + 25i .
Y = 57,5/0,5 + 25/0,5 = 115 + 50i → LM
Fungsi pendapatan nasional keseimbangan yang baru untuk pasar uang dan pasar barang adalah
300 - 50i = Y = 115 + 50i, .
300 - 501 = 115 +50i
100i=185
i = 1,85% —> Y = 300 - 50 (1,85) = 207,5 .
Kesimpulannya adalah bahwa bila uang beredar ditambah, maka dalam perekonomian di negara Kranji tersebut keseimbangan di pasar barang dan pasar uang mengalarni perubahan, yaitu suku bunga mengalarni penurunan sebesar 0,15% sehingga menjadi sebesar l,85% dari semula yang sebesar 2%, sedangkan pendapatan nasional mengalami peningkatan sebesar Rp. 7,- yaitu dan Rp.200,- menjadi Rp. 207,-. Dengan dernikian bila lain-lainnya tidak berubah yaitu pola investasi, konsumsi dan perrnintaan uang maka penambahan jumlah uang beredar justru akan akan menambah pendapatan nasional karena penurunan suku bunga.Dampaknya pada pasar barang adalah terjadinya peningkatan tabungan (dari Rp. 25,- menjadi Rp 26,75) dan tentu saja. mengimbas pada rnvestasi, narnun keseimbangan di pasar barang tidak berubah.
Dengan demikian kurva LM akan bergeser ke kanan bawah seperti herikut.
 














D.   STUDI KASUS
BI Buka Peluang Kembali Naikkan Suku Bunga Acuan

31 Jul 2018, 14:00 WIB
Liputan6.com, Jakarta Bank Indonesia (BI) terus memutar strategi demi menghadapi berbagai sentimen global yang menjadikan ekonomi Indonesia turut terpengaruh. Beberapa waktu lalu, BI telah menaikkan suku bunga acuan langsung 50 basis poin menjadi 5,25 persen.
Apakah suku bunga saat ini sudah cukup?
Kepala Grup Riset Makroprudensial Departemen Kebijakan Makro Prudensial BI, Retno Ponco Windarti menjelaskan sentimen kenaikan bunga oleh The Fed masih bakal terjadi sampai akhir tahun 2018. Untuk itu, dia memastikan BI tetap membuka peluang untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya jika memang peluang tersebut memungkinkan.
"Kami tidak menutup kemungkinan untuk itu (menaikkan bunga acuan), kalau ada peluang kenaikkan akan dilakukan," kata Retno di Jakarta, Selasa (31/7/2018).
Pada tahun ini, Bank Indonesia sudah memiliki strategi jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga acuan sebanyak 4 kali. Jumlah ini lebih banyak jika dibandingkan prediksi sebelumnya yang hanya 3 kali sepanjang 2018. Meski demikian, Retno menegaskan jika nantinya suku bunga naik, BI akan mengimbangi dengan memberikan kebijakan yang bersifat stimulus, seperti sebelumnya kelonggaran Loan to Value (LTV).
"Yang pasti secara bilateral setiap ada jamu pahit juga ada jamu manis," tambahnya.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan Bank Indonesia (BI) 7-day Reverse Repo Rate atau suku bunga acuan pada angka 5,25 persen. BI juga menahan suku bunga Deposit Facility di angka 4,50 persen dan Lending Facility di angka 6,00 persen.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, kebijakan untuk menahan suku bunga acuan diambil sebab kenaikan sebelumnya dinilai sudah cukup kompetitif.
"Karena kami pandang kenaikan yang selama ini kita sudah lakukan totalnya 100 basis point (bps) itu kami pandang bahwa suku bunga itu sudah cukup kompetitif di dalam memberika ruang bagi masuknya modal asing," kata Perry, di Kantor BI, Jakarta Pusat, Kamis (19/7/2018).
Perry menegaskan BI akan tetap fokus menjaga stabilitas ekonomi Indonesia, khususnya stabilitas nilai tukar rupiah.
Oleh sebab itu, dia menyatakan akan terus memantau semua perkembangan yang terjadi baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.
"Tentu saja ke depan akan kami evaluasi lagi secaran bulan ke bulan. Dan ke depan tentu saja akan terus memantau berbagai perkembangan ekonomi di dalam maupun luar negeri," ujarnya.
Selain itu, BI juga akan memantau arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed yang diprediksi masih akan melakukan dua kali kenaika suku bunga di tahun ini dan tiga kali kenaikan pada tahun depan.
"Kenaikan The Fed akan kami pantau bulan ke bulannya. Kami juga akan pantau bagaimana tren dari yield obligasi pemerintah AS seberapa jauh ke depan." tutup dia. 
Reporter: Yayu Agustini Rahayu
Sumber: Merdeka.com







BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN

1.                  Pasar barang adalah pasar dimana semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara dan dalam jangka waktu tertentu.  Permintaan dalam pasar barang merupakan agregasi dari semua permintaan akan barang dan jasa di dalam negeri, sementara yang menjadi penawarannya adalah semua barang dan jasa yang diproduksi dalam negeri. kurva IS menunjukkan kombinasi dari tingkat bunga dan tingkat pendapatan yang konsisten dengan keseimbangan dalam pasar untuk barang dan jasa. Perubahan-perubahan dalam kebijakan fiskal yang meningkatkan permintaan terhadap barang dan jasa menggeser kurva IS ke kanan. Perubahan-perubahan dalam kebijakan fiskal yang mengurangi permintaan terhadap barang dan jasa menggeser kurva IS ke kiri. 

2.                  Hubungan antara tingkat bunga dan tingkat pendapatan yang muncul di pasar uang dinyatakan dengan Kurva LM.Tingkat pendapatan mempengaruhi permintaan terhadap uang. Ketika pendapatan tinggi, pengeluaran juga tinggi, sehingga masyarakat terlibat dalam lebih banyak transaksi yang mensyaratkan penggunaan uang. Jadi, uang yang lebih banyak menunjukkan permintaan uang yang lebih besar.
Kurva LM menunjukkan kombinasi tingkat bunga dan tingkat pendapatan yang konsisten dengan keseimbangan dalam pasar untuk keseimbangan uang riil. Kurva LM digambar untuk penawaran dari keseimbangan uang riil tertentu. Penurunan dalam penawaran dari keseimbangan uang riil menggeser kurva LM ke atas. Kenaikan dalam penawaran dari keseimbangan uang riil menggeser kurva LM ke bawah.

3.                  Keseimbangan perekonomian adalah titik dimana kurva IS dan LM berpotongan. Titik ini memberikan tingkat bunga r dan tingkat pendapatan Y yang memenuhi kondisi untuk keseimbangan baik dalam pasar barang maupun pasar uang. Dengan kata lain, pada perpotongan ini pengeluaran aktual sama dengan pengeluaran yang direncanakan, dan permintaan terhadap keseimbangan uang riil sama dengan penawarannya. 



No comments:

Post a Comment