MAKALAH
METODOLOGI STUDI ISLAM
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metodologi Studi Islam
DOSEN PEMBIMBING : Dr. Chuzaimah Batubara, M.A
DISUSUN OLEH KELOMPOK I
ANNISA (0503172085)
AZWAR HAMID (0503173310)
MUHAMMAD ALI IMRAN CANIAGO (0503171084)
SITI KHADIJAH (0503172088)
PERBANKAN SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
2018
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT. Karena berkat rahmat dan
inayah Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat dan salam marilah
kita hadiahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW. Karena berkat perjuangan
beliaulah kita semua dapat merasakan pancaran iman dan taqwa seperti yang kita
rasakan sekarang ini.
Kami menyadari bahwa makalah kami ini masih banyak terdapat
kekurangan dan kekhilafannya, oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik
dan sarannya demi kesempurnaan makalah ini dimasa mendatang.
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................................i
DAFTAR
ISI....................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG.....................................................................................1
B. RUMUSAN MASALAH................................................................................1
C. TUJUAN..........................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN METODE, METODOLOGI, PARADIGMA, DAN PENDEKATAN..............................................................................................3
B. ARTI DAN RUANG LINGKUP STUDI ISLAM..........................................5
C. URGENSI MEMPELAJARI METODOLOGI STUDI ISLAM.....................6
D. STUDI
ISLAM................................................................................................8
E. METODE DAN PENDEKATAN KAJIAN ISLAM......................................9
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN.............................................................................................11
B. SARAN..........................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Secara ekstern (outsider) atau dalam pengalaman dunia Barat, “Studi
Islam” (Islamic Studies) merupakan salah satu studi yang mendapatkan perhatian
luas di kalangan ilmuan Barat dan Timur. Khususnya mereka yang menjadikan Islam
sebagai wacana kajian ilmiah (keilmuan), sehingga mereka dikenal sebagai
islamolog atau islamisis. Jika ditelusuri lebih jauh, maka diketahui bahwa
minat terhaadap Studi Islam sudah mulai marak sejak pertengahan kedua abad
ke-19.
Dewasa ini Studi Islam telah dijadikan sebagai salah satu cabang
ilmu favorit. Hal ini berarti studi Islam telah mendapat tempat dalam peraturan
dunia ilmu pengetahuan. Universitas-universitas di Barat membuka fakultas atau
departeman yang khusus mendiskursuskan Studi Islam yang dilengkapi dengan
buku-buku yang jurnal-jurnal keislaman yang diterbitkan. Diantaranya adalah
McGill University di Canada.
Metodologi dapat diartikan sebagai suatu pembahasan konsep teoritis
sebagai metode yang terkait dalam suatu sistem pengetahuan. Dalam dua dekade
terakhir, kesadaran umat Islam terhadap pentingnya berbagai pendekatan
metodologis ilmiah dalam bidang Islamic Studies dan perhatian mereka terhadap
persoalan – persoalan yang dihasilkan dari berbagai pendekatan ini sudah mulai
muncul.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa pengertian metode, metodologi, paradigma, dan pendekatan ?
2.
Apa saja ruang lingkup studi islam ?
3.
Bagaimana urgensi mempelajari metodologi studi islam ?
4.
Bagaimana metode dan pendekatan studi islam ?
C.
TUJUAN
1.
Untuk mengetahui pengertian metode, metodologi, paradigma, dan
pendekatan studi islam
2.
Untuk mengetahui ruang lingkup studi islam
3.
Untuk mengetahui urgensi mempelajari studi islam
4.
Untuk mengetahui metode dan pendekatan yang digunakan dalam studi
islam
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Metode, Metodologi, Paradigma dan Pendekatan
Metode berasal dari bahasa Yunani, meta, metedos, dan logos. Meta berarti menuju, melalui, dan
mengikuti. Metodos berarti jalan atau
cara. Maka metodos (metode) berarti
jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai sesuatu. Metode merupakan
langkah-langkah praktis dan sistematis yang ada dalam ilmu-ilmu tertentu yang
sudah dipertanyakan lagi karena sudah bersifat aplikatif. Metodologi dapat dipandang
sebagai suatu bagian, sekaligus bentuk terapan dari epistemologi.[1]
Adapun metode studi islam secara lebih rinci dapat dijabarkan
sebagi berikut:
1.
Metode Diakronis
Suatu
metode pemahaman terhadap suatu kepercayaan, sejarah atau kejadian dengan melihatnya
sebagai suatu kenyataan yang mempunyai kesatuan yang mutlak dengan waktu,
tempat, kebudayaan, golongan, dan lingkungan di mana kepercayaan, sejarah atau
kejadian itu muncul.
2.
Metode sinkronis-Analitis
Suatu
metode mempelajari islam yang memberikan kemampuan analisis teoretis yang
sangat berguna bagi perkembangan keimanan dan mental-intelekumat Islam.
3.
Metode problem solving (hill al-musykilat)
Metode
ini merupakan cara penguasaan keterampilan dari pada pengembanan pemikiran umat
Islam mungkin hanya terbatas pada kerangka yang sudah tetap dan akhirnya
bersifat mekanis.
4.
Metode Empiris (tajribiyyah)
Suatu
metode mempelajari Islam yang memungkinkan umat Islam mempelajari
ajarannya melalui proses realisasi,
aktualisasi, dan internalisasi norma-norma dan kaidah Islam dengan suatu proses
aplikasi yang menimbulkan suatu interaksi sosial, kemudian secara deskriptif
proses interaksi dapat di rumuskan san suatu sistem norma baru.
5.
Metode Deduktif (al-Manhaj al-Istinbathiyyah)
Suatu
metode memahami Islam dengan cara menyusun kaidah-kaidah secara logis dan
filosofi, dan selanjutnya kaidah-kaidah itu diaplikasikan untuk menentukan
masalah-masalah yang dihadapi.
6.
Metode Induktif (al-Manhaj al-Istiqraiyyah)
Suatu
metode memahami Islam dengan cara menyusun kaidah-kaidah hukum untu diterapkan
kepada maslah-masalah furu’ yang disesuaikan dengan mazhabnya terlebih dahulu.[2]
Adapun istilah metodologi studi islam digunakan ketika seseorang
ingin membahas kajian kajian seputar ragam metode yang bisa digunakan dalam
studi Islam. Metodologi studi Islam mengenalkan metode – metode itu sebatas
teoritis. Seseorang yang mempelajarinya juga belum menggunakan dalam praktik.Ia
masih dalam tahap mempelajari secara teoritis bukan praktis.[3]
Dari segi metodologis, Islam sebagai agama memiliki dua wajah,
yaitu Islam sebagai suatu ajaran dan doktrin, serta Islam sebagai pengetahuan
dan fenomena sosiologis. Sisi pertama tidak jarang dianggap sebagai sisi
eklusif (tertutup) dan sisi lainnya dianggap sisi ekslusif (terbuka). Sulit
dibedakan secara tegas antara proporsioanal wilayah keilmuan yang menuntut
sikap kritis, rasional, historis dan penonjolan sikap sebagai “pengamat” pada
satu pihak yang menuntut pemihakan subjektif, sepihak (involved), amalan
praktis dan penonjolan sikap sebagai pelaku di pihak lain.[4]
Menurut George Ritzer,
paradigma adalah pandangan yang mendasar dari ilmuwan tentang apa yang menjadi
pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh suatu cabang (disiplin) ilmu
pengetahuan. Berdasarkan beberapa pengertian, paradigma dapat dirangkum bahwa
paradigma adalah suatu kerangka konseptual, termasuk nilai, teknik, dan metode,
yang disepakati dan digunakan oleh suatu komunitas dalam memahami atau
mempresepsikan segala sesuatu.[5]
Pendekatan adalah cara memperlakukan sesuatu, sementara metode
merupakan cara mengerjakan sesuatu. Adapun metodologi yaitu langkah – langkah
praktis dan sistematis yang ada dalam ilmu – ilmu tertentu yang sudah tidak
dipertanyakan lagi karena sudah bersifat aplikatif.[6]
adapun pendekatan dalam studi islam adalah sebagai
berikut :
1. Pendekatan historis
Meninjau suatu permasalahan dari sudut tinjauan
sejarah dan menjawab permasalahan serta menganalisanya dengan menggunakan
metode analisis sejarah.
2. Pendekatan filosofis
Melihat suatu permasalahan dari sudut tinjauan
filsafat dan berusaha menjawab dan memecahkan permasalahan itu dengan analisis
spekulatif.
3. Pendekatan ilmiah
Meninjau dan mengalisis suatu permasalahan atau
objek studi dengan menggunakan metode ilmiah pada umumnya.
4. Pendekatan doktriner/pendekatan studi islam secara konvensional
Pendekatan studi dikalangan ummat islam bahwa agama
islam sebagai objek studi yang diayakini sebagai sesuatu yang suci dan
merupakan doktrin doktrin yang berasal dari Ilahi yang mempunyai nilai
kebenaran absolut, mutlak, dan universal.[7]
B.
Arti dan Ruang Lingkup Studi Islam
Istilah studi Islam dalam bahasa Inggris adalah Islamic Studies,
dan dalam bahasa Arab adalah Dirasat al – Islamiyah. Ditinjau dari sisi
pengertian, studi islam secara sederhana dimaknai sebagai “kajian Islam”.
Pengertian studi Islam sebagai kajian Islam sesungguhnya memiliki cakupan makna
dan pengertian yang luas.[8]
Studi keIslaman di kalangan umat Islam sendirinya tentunya sangat
berbeda tujuan dan motivasinya dengan yang dilakukan oleh orang – orang di luar
kalangan umat Islam. Di kalangan umat Islam, studi keIslaman bertujuan untuk
memahami dan mendalami serta membahas ajaran – ajaran Islam agar mereka dapat
melaksanakan dan mengamalkannya dengan benar.
Kata studi Islam merupakan gabungan dari dua kata, yaitu kata studi
dan kata Islam. Kata studi memiliki berbagai pengertian. Rumusan Lester Crow
dan Alice Crow menemukan bahwa studi adalah kegiatan yang secara sengaja
diusahakan dengan maksud untuk memperoleh keterangan, mencapai pemahaman yang
lebih besar, atau meningkatkan suatu keterampilan.[9]
Studi Islam merupakan suatu disiplin ilmu yang ruang lingkup studi
keIslaman dalam tradisi sarjana barat meliputi pembahasan tentang ajaran,
pemikiran, teks, sejarah dan institusi keIslama.
C.
Urgensi Mempelajari Metodologi Studi Islam
Studi Islam dituntut untuk membuka diri terhadapmasuknya dan
digunakannya pendekatan-pendekatan yang bersifat objektif dan rasional. Dan
secara bertahap meninggalkan pendekatan yang bersifat subjektif doktriner,
dengan demikian diharapkan studi Islam akan berkembang dan mampu beradaptasi
dengan sunia moderen serta mampu menjawab tantangan kehidupan dunia dan budaya
modern.[10]
Mukti Ali mengingatkan bahwa metodologi adalah masalah yang sangat
penting dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan. Metode kognitif yang benar
untuk mencari kebenaran adalah lebih penting daripada filsafat dan sains. Lebih
jauh ia menambahkan bahwa pada abad pertengahan, Eropa menghabiskan limit waktu
seribu tahun dalam keadaan stagnasi. Tetapi keadaan yang stagnan tersebut
akhirnya berubah menjadi kebangkitan revolusioner multy faces dalam bidang sains, seni, sastra juga semua wilayah
hidup dan kehidupan manusia dan sosial. Revolusi yang mendadak dan energi yang
meledak dalam pemikiran manusia itu menghasilkan sebuah peradaban besar yang
begitu menakjubkan dalam bidang kemajuan ilmu pengetahuan.[11]
Sejak kedatangan Islam pada abad ke-13 M. Hingga sat ini, fenomena
pemahaman keIslaman umat Islam Indonesia masih ditandai oleh keadaan amat
variatif. Kita tidak tahu persis apakah kondisi demikian itu merupakan sesuatu
yang alami yang harus diterima sebagai suatu kenyataan untuk diambil hikmahnya,
ataukah diperlukan adanya standar umum yang perlu diterapkan dan diberlakukan
kepada berbagai paham keagamaan yang variatif itu, sehingga walaupun keadaannya
amat bervariasi tetapi tidak keluar dari ajaran yang terkandung dalam Alquran
dan Al-Sunnah serta sejalan dengan data-data historis yang dapat
dipertanggungjawabkan keabsahannya.[12]
Misalnya kita melihat adanya sejumlah orang yang pengetahuannya
tentang keIslaman cukup luas dan mendalam, namun tidak terkoordinasikan dan
tidak tersusun secara sistematik. Hal ini disebabkan karena orang tersebut
ketika menerima ajaran Islam tidak sistematik dan tidak terorganisasikan secara
baik.
Selanjutnya kita melihat pula ada orang yang penguasaannya terhadap salah satu bidang
keilmuwan cukup mendalam, tetapi kurang memahami disiplin ilmu keikhlasan
lainnya, bahkan yang bukan merupakan keahliannya itu dianggap sebagai ilmu yang
kelasnya berada di bawah kelas ilmu yang dipelajarinya.
Pada tahap berikutnya, yang pernah menjadi primadona masyarakat
adalah Ilmu Kalam (Teologi), sehingga setiap masalah yang dihadapinya selalu
dilihat dari paradigma teologi. Lebih dari itu teologi yang dipelajarinya pun
hanya berpusat pada paham Asy’ari dan Maturidiah (Sunni), sedangkan paham
lainnya dianggap sebagai sesat. Akibat dari keadaan demikian, maka tidak
terjadi dialog, keterbukaan, saling menghargai, dam sebagainya.[13]
Setelah itu muncul pula paham keislaman bercorak tasawuf yang sudah
mengambil bentuk tarikat yang terkesan kurang menampilkan pola hidup yang
seimbang antara urusan duniawi dan urusan ukhrawi. Dalam tasawuf ini, kehidupan
dunia terkesan diabaikan. Umat terlalu mementingkan urusan akkhirat., sedangkan
urusan duniawi menjadi terbengkalai. Akibatnya keadaan umat menjadi mundur
dalam bidang keduniaan, materi, dan fasilitas hidup lainnya.
Dari beberapa contoh tentang pemahaman keIslaman di atas, kita
dapat memperoleh kesan bahwa hingga saat ini pemahaman Islam yang terjadi di
masyarakat masih bercorak parsial, belum utuh dan belum pula komperhensif. Dan
sekalipun kita menjumpai adanya pemahaman Islam yang sudah utuh dan
komperhensif, namun semuanya itu belum tersosialisasikan secara merata ke
seluruh masayarakat Islam.[14]
Disinilah letak urgensi studi Islam, untuk menggali kembali
ajaran-ajaran islam yang asli dan murni, dan yang bersifat manusiawi dan
universal, yang mempunyai daya untuk mewujudkan dirinya sebagai rahmah li
al’amin. Dari situ kemudian ditransformasikan kepada generasi penerusnya;
dihadapkan dengan budaya dan peradaban modern, agar mampu bertahapan dan
beradaptasi dengannya.[15]
D.
Studi Islam
Di kalangan para ahli masih terdapat perdebatan di sekitar
permasalahan apakah studi Islam (agama) dapat dimasukkan ke dalam bidang ilmu
pengetahuan, mengingat sifat dan karakteristik antara ilmu pengetahuan dan
agama berbeda. Pembahasan di sekitar permasalahan ini banyak dikemukakan oleh
para pemikir Islam belakangan ini.[16]
Dengan demikian secara sederhana dapat ditemukan jawabannya bahwa dilihat
dari segi normatif sebagaimana yang terdapat dalam Alquran dan hadis, maka
Islam lebih merupakan agama yang tidak dapat diberlakukan kepadanya paradigma
ilmu pengetahuan, yaitu paradigma analitis, kritis, metodologis, historis, dan
empiris. Sebagai agama, Islam lebih bersifat memihak, romantis, apologis, dan
subjektif, sedangkan jika dilihat dari segi historis, yakni Islam dalam arti
yang dipraktikkan oleh manusia serta tumbuh dan berkembang dalam sejarah kehidupan
manusia, maka Islam dapat dikatakan sebagai sebuah disiplin ilmu, yakni Ilmu
KeIslaman atau Islam Studies.
Perbedaan dalam melihat Islam yang demikian itu dapat menimbulkan
perbedaan dalam menjelaskan Islam itu sendiri. Ketika Islam dilihat dari sudut normatif,
Islam merupakan agama yang di dalamnya berisi ajaran Tuhan yang berkaitan
dengan urusan akidah dan muamalah. Sedangkan
ketika Islam dilihat dari sudut
historis atau sebagaimana yang tampak dalam masyarakat, Islam tampil sebuah
disiplin ilmu.[17]
Adapun arah dan tujuan studi Islam dapat dirumuskan sebagai
berikut:
1.
Untuk mempelajari secara mendalam tentang apa sebenarnya (hakikat)
agama Islam itu, dan bagaimana posisi serta hubungannya dengan agama-agama lain
dalam kehidupan budaya manusia.
2.
Untuk mempelajari secara mendalam pokok-pokok isi ajaran agama
Islam yang asli, dan bagaimana penjabaran dan operasionalisasinya dalam
pertumbuhan dan perkembangan budaya dan peradaban Islam sepanjang sejarahnya.
3.
Untuk mempelajari secara mendalam sumber dasar ajaran agama islam
yang tetap abadai dan dinamis, dan bagaimana aktualisasinya sepanjang
sejarahnya.
4.
Untuk mempelajari secara mendalam prinsip-prinsip dan nilai-nilai
dasar ajaran agama Islam, dan bagaimana realisasinya dalam membimbing dan
mengarahkan serta mengontrol perkembangan budaya dan peradaban manusia pada
zaman modern ini.[18]
E.
Metode dan Pendekatan Kajian Islam
1.
Pengetahuan Manusia Secara Umum
Manusia dalam kehidupannya mempunyai kebutuhan yang banyak sekali.
Adanya kebutuhan hidup inilah yang mendorong manusia untuk melakukan berbagai
tindakan dalam rangka pemenuhan kebutuhan tersebut.
Manusia memiliki pengetahuan yang merupakan alat untuk melaksanakan
segala aktivitas dalam kehidupan sehari – hari, tanpa pengetahuan manusia akan
mengalami kendala – kendala dalam menyelesaikan persoalannya. Pengetahuan
dimulai dari rasa ingin tahu, yang merupakan ciri khas manusia karena manusia
merupakan makhluk yang tidak pernah puas dalam mengembangkan pengetahuan yang
dilakukan secara sungguh – sungguh.
Ciri yang membedakan manusia dari makhluk lain ada pada
kepastiannya untuk selalu berpikir. Berpikir dipacu oleh keingintahuan, manusia
ingin tahu jawaban dari semua pertanyaan hidup yang dihadapinya, ia ingin tahu
kebenaran dari segala sesuatu yang ditemuinya.[19]
2.
Rasa Ingin Tahu Manusia
Untuk memenuhi
keingintahuannya manusia berusaha untuk mencari pengetahuan dengan berbagai
upaya.
a.
Trial and Error
Trial
and error merupakan
metode coba-coba, yaitu manusia melakukan percobaan terhadap sesuatu tanpa
melakukan langkah –langkah/desain secara ilmiah untuk menemukan suatu kebenaran.
b.
Common Sense
Common sense
merupakan anngapan umum, yaitu kebenaran atas dasar penglihatan dan secara
kebiasaan bahwa penglihatan itu (objek) merupakan gejala atau tanda akan
terjadi sesuatu.
c.
Akal
Manusia
merupakan makhluk yang berakal yang dapat mempergunakan daya berpikirnya untuk
memahami berbagai aspek dalam kehidupannya dan menentukan reaksinya.
d.
Pengalaman
Menurut
C.A. Van Peursen, pengetahuan empiris melalui pengalaman pribadi, melihat,
mendengar, merasakan, menduga dalam suasana jiwa.
e.
Ilham
Untuk
memperoleh pengetahuan melalui inspirasi ini dapat dilakukan dengan mencari
pengalaman terlebih dahulu, membaca buku, pengalaman pribadi dan lain – lain.
Maka dapat dikatakan bahwa pengetahuan yang diperoleh melalui inspirasi ialah
pengetahuan yang disertai ide.
f.
Wahyu
Wahyu
merupakan sumber ilmu yang disampaikan Allah kepada manusia dengan perantara
rasul. Wahyu merupakan firman Allah, sedangkan isi wahyu berupa pengetahuan
yang diturunkan oleh Allah kepada manusia melalui nabi dan rasulnya.[20]
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Metodologis Studi Islam (MSI)
sebagai sebuah mata kuliah umum yang harus dipelajari oleh setiap mahasiswa
di perguruan tinggi islam dan merupakan salah satu disiplin ilmu yang mengkaji
khazanah studi – studi dasar keislaman baik klasik maupun modern dengan
pendekatan metodologis seadanya. Dikatakan seadanya karena memang dalam tataran
praktisnya di perkuliahan, tidak selamanya Studi Islam ini dibahas secara
metodik sesuai dengan tuntunan disiplin tersebut. Banyak variabel yang menjadi
penyebab, di antaranya faktor ketiadaan program pengajaran yang baku dan
mengacu ke arah yang lebih metodologis. Penyebab lainnya adalah dari segi kemampuan
tenaga pengajar yang masih terbatas dari segi rekayasa pendekatan dalam proses
belajar – mengajar, sehingga terkadang di antara mereka ada yang tidak mampu
membahas secara lebih metodologis.
Dengan kata lain, maka kuliah MSI adalah sebagai pengantar umum
tentang khazanah ilmu – ilmu pengetahuan dasar keislaman yang diperuntukkan
sebagai pengenalan awal (studi dasar) bagi semua mahasiswa sebelum melangkah
kedalam kajian disiplin – disiplin ilmu
khusus sesuai dengan bidang kajian masing – masing jurusan yang ada di perguruan
tinggi islam.
B.
SARAN
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan,
banyak sekali sisi sisi kekurangan yang memerlukan perbaikan. Sehubungan dengan
hal tersebut, maka segala kritik dan saran sangat diharapkan untuk perbaikan
makalah selanjutnya. Dan semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca khususnya
kepada kawan kawan mahasiswa yang sedang mempelajari metodologi studi islam.
DAFTAR PUSTAKA
Ananda, Faisar.
2015. Metode Studi Islam: Jalan Tengah Memahami Islam. Jakarta: Rajagrafindo Persada
Batubara, Chuzaimah.
2018. Handbook Metodologi Studi Islam. Jakarta: Prenadamedia Group
Hanafiah, Muhibuddin.
2011. Revitalisasi Metodologi Studi Islam: Suatu Pendekatan Terhadap Studi
Ilmu Ilmu Keislaman. Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA.Vol. 11. No. 2. Hlm. 297
Mudzhar, Atho.
1998. Pendekatan Studi Islam Dalam Teori Dan Praktek. Yogyakarta:
Pustaka pelajar
Muhaimin. 2005.
Studi Islam Dalam Ragam Dimensi Dan Pendekatan. Jakarta: Prenadamedia
Group
Nata, Abuddin. 2014. Metodologi Studi Islam. Jakarta:
Rajawali Press
[1] Chuzaimah Batubara, Handbook Metodologi Studi Islam, (Jakarta:
Prenadamedia Group, 2018), Hlm. 1
[2] Muhaimin, Studi Islam Dalam Ragam Dimensi Dan Pendekatan,(Jakarta:
Prenadamedia Group, 2005), Hlm.
15-17
[3] Chuzaimah Batubara, Handbook Metodologi Studi Islam, (Jakarta:
Prenadamedia Group, 2018), Hlm. 3
[4] Muhibuddin Hanafiah, Revitalisasi Metodologi Studi Islam: Suatu
Pendekatan Terhadap Studi Ilmu Ilmu Keislaman, Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA, 2011,
Vol. 11, No. 2, Hlm. 297
[5] Chuzaimah Batubara, Handbook Metodologi Studi Islam, (Jakarta:
Prenadamedia Group, 2018), Hlm. 3
[6] Ibid.
[7] Muhaimin, Studi Islam Dalam Ragam Dimensi Dan Pendekatan,(Jakarta:
Prenadamedia Group, 2005), Hlm. 12-14
[8] Chuzaimah Batubara, Handbook Metodologi Studi Islam, (Jakarta:
Prenadamedia Group, 2018), Hlm. 4
[9] Ibid
[10] Muhaimin, Studi Islam Dalam Ragam Dimensi Dan Pendekatan,(Jakarta:
Prenadamedia Group, 2005), Hlm. 3
[11] Muhibuddin Hanafiah, Revitalisasi Metodologi Studi Islam: Suatu
Pendekatan Terhadap Studi Ilmu Ilmu Keislaman, Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA, 2011,
Vol. 11, No. 2, Hlm. 295-296
[12] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Press,
2014), Hlm. 143
[13] Ibid, Hlm. 144
[14] Ibid, Hlm. 145
[15] Atho Mudzhar, Pendekatan Studi Islam Dalam Teori Dan Praktek,(Yogyakarta:
Pustaka pelajar, 1998), Hlm. 37
[16] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Press,
2014), Hlm. 150
[17] Ibid, Hlm. 151
[18] Muhaimin, Studi Islam Dalam Ragam Dimensi Dan Pendekatan,(Jakarta:
Prenadamedia Group, 2005), Hlm. 9-11
[19] Faisar Ananda, Metode Studi Islam: Jalan Tengah Memahami Islam,(Jakarta:
Rajagrafindo Persada, 2015), Hlm. 1
[20] Ibid, Hlm. 2-5
No comments:
Post a Comment