Monday, October 28, 2019

METODOLOGI STUDI ISLAM


MAKALAH
METODOLOGI STUDI ISLAM
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metodologi Studi Islam
DOSEN PEMBIMBING : Dr. Chuzaimah Batubara, M.A


DISUSUN OLEH KELOMPOK I
ANNISA  (0503172085)
AZWAR HAMID (0503173310)
MUHAMMAD ALI IMRAN CANIAGO (0503171084)
SITI KHADIJAH (0503172088)
 








PERBANKAN SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
2018
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT. Karena berkat rahmat dan inayah Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat dan salam marilah kita hadiahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW. Karena berkat perjuangan beliaulah kita semua dapat merasakan pancaran iman dan taqwa seperti yang kita rasakan sekarang ini.
Kami menyadari bahwa makalah kami ini masih banyak terdapat kekurangan dan kekhilafannya, oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan sarannya demi kesempurnaan makalah ini dimasa mendatang.


Penulis













DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................i
DAFTAR ISI....................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG.....................................................................................1
B.     RUMUSAN MASALAH................................................................................1
C.     TUJUAN..........................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN METODE, METODOLOGI, PARADIGMA, DAN PENDEKATAN..............................................................................................3
B.     ARTI DAN RUANG LINGKUP STUDI ISLAM..........................................5
C.     URGENSI MEMPELAJARI METODOLOGI STUDI ISLAM.....................6
D.    STUDI ISLAM................................................................................................8
E.     METODE DAN PENDEKATAN KAJIAN ISLAM......................................9
BAB III PENUTUP
A.    KESIMPULAN.............................................................................................11
B.     SARAN..........................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Secara ekstern (outsider) atau dalam pengalaman dunia Barat, “Studi Islam” (Islamic Studies) merupakan salah satu studi yang mendapatkan perhatian luas di kalangan ilmuan Barat dan Timur. Khususnya mereka yang menjadikan Islam sebagai wacana kajian ilmiah (keilmuan), sehingga mereka dikenal sebagai islamolog atau islamisis. Jika ditelusuri lebih jauh, maka diketahui bahwa minat terhaadap Studi Islam sudah mulai marak sejak pertengahan kedua abad ke-19.
Dewasa ini Studi Islam telah dijadikan sebagai salah satu cabang ilmu favorit. Hal ini berarti studi Islam telah mendapat tempat dalam peraturan dunia ilmu pengetahuan. Universitas-universitas di Barat membuka fakultas atau departeman yang khusus mendiskursuskan Studi Islam yang dilengkapi dengan buku-buku yang jurnal-jurnal keislaman yang diterbitkan. Diantaranya adalah McGill University di Canada.
Metodologi dapat diartikan sebagai suatu pembahasan konsep teoritis sebagai metode yang terkait dalam suatu sistem pengetahuan. Dalam dua dekade terakhir, kesadaran umat Islam terhadap pentingnya berbagai pendekatan metodologis ilmiah dalam bidang Islamic Studies dan perhatian mereka terhadap persoalan – persoalan yang dihasilkan dari berbagai pendekatan ini sudah mulai muncul.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian metode, metodologi, paradigma, dan pendekatan ?
2.      Apa saja ruang lingkup studi islam ?
3.      Bagaimana urgensi mempelajari metodologi studi islam ?
4.      Bagaimana metode dan pendekatan studi islam ?

C.    TUJUAN
1.      Untuk mengetahui pengertian metode, metodologi, paradigma, dan pendekatan studi islam
2.      Untuk mengetahui ruang lingkup studi islam
3.      Untuk mengetahui urgensi mempelajari studi islam
4.      Untuk mengetahui metode dan pendekatan yang digunakan dalam studi islam




BAB II
PEMBAHASAN

A.   Pengertian Metode, Metodologi, Paradigma dan Pendekatan
Metode berasal dari bahasa Yunani, meta, metedos, dan logos. Meta berarti menuju, melalui, dan mengikuti. Metodos berarti jalan atau cara. Maka metodos (metode) berarti jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai sesuatu. Metode merupakan langkah-langkah praktis dan sistematis yang ada dalam ilmu-ilmu tertentu yang sudah dipertanyakan lagi karena sudah bersifat aplikatif. Metodologi dapat dipandang sebagai suatu bagian, sekaligus bentuk terapan dari epistemologi.[1]
Adapun metode studi islam secara lebih rinci dapat dijabarkan sebagi berikut:
1.      Metode Diakronis
Suatu metode pemahaman terhadap suatu kepercayaan, sejarah atau kejadian dengan melihatnya sebagai suatu kenyataan yang mempunyai kesatuan yang mutlak dengan waktu, tempat, kebudayaan, golongan, dan lingkungan di mana kepercayaan, sejarah atau kejadian itu muncul.
2.      Metode sinkronis-Analitis
Suatu metode mempelajari islam yang memberikan kemampuan analisis teoretis yang sangat berguna bagi perkembangan keimanan dan mental-intelekumat Islam.
3.      Metode problem solving (hill al-musykilat)
Metode ini merupakan cara penguasaan keterampilan dari pada pengembanan pemikiran umat Islam mungkin hanya terbatas pada kerangka yang sudah tetap dan akhirnya bersifat mekanis.
4.      Metode Empiris (tajribiyyah)
Suatu metode mempelajari Islam yang memungkinkan umat Islam mempelajari ajarannya  melalui proses realisasi, aktualisasi, dan internalisasi norma-norma dan kaidah Islam dengan suatu proses aplikasi yang menimbulkan suatu interaksi sosial, kemudian secara deskriptif proses interaksi dapat di rumuskan san suatu sistem norma baru.
5.      Metode Deduktif (al-Manhaj al-Istinbathiyyah)
Suatu metode memahami Islam dengan cara menyusun kaidah-kaidah secara logis dan filosofi, dan selanjutnya kaidah-kaidah itu diaplikasikan untuk menentukan masalah-masalah yang dihadapi.
6.      Metode Induktif (al-Manhaj al-Istiqraiyyah)
Suatu metode memahami Islam dengan cara menyusun kaidah-kaidah hukum untu diterapkan kepada maslah-masalah furu’ yang disesuaikan dengan mazhabnya terlebih dahulu.[2]
Adapun istilah metodologi studi islam digunakan ketika seseorang ingin membahas kajian kajian seputar ragam metode yang bisa digunakan dalam studi Islam. Metodologi studi Islam mengenalkan metode – metode itu sebatas teoritis. Seseorang yang mempelajarinya juga belum menggunakan dalam praktik.Ia masih dalam tahap mempelajari secara teoritis bukan praktis.[3]
Dari segi metodologis, Islam sebagai agama memiliki dua wajah, yaitu Islam sebagai suatu ajaran dan doktrin, serta Islam sebagai pengetahuan dan fenomena sosiologis. Sisi pertama tidak jarang dianggap sebagai sisi eklusif (tertutup) dan sisi lainnya dianggap sisi ekslusif (terbuka). Sulit dibedakan secara tegas antara proporsioanal wilayah keilmuan yang menuntut sikap kritis, rasional, historis dan penonjolan sikap sebagai “pengamat” pada satu pihak yang menuntut pemihakan subjektif, sepihak (involved), amalan praktis dan penonjolan sikap sebagai pelaku di pihak lain.[4]
Menurut  George Ritzer, paradigma adalah pandangan yang mendasar dari ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh suatu cabang (disiplin) ilmu pengetahuan. Berdasarkan beberapa pengertian, paradigma dapat dirangkum bahwa paradigma adalah suatu kerangka konseptual, termasuk nilai, teknik, dan metode, yang disepakati dan digunakan oleh suatu komunitas dalam memahami atau mempresepsikan segala sesuatu.[5]
Pendekatan adalah cara memperlakukan sesuatu, sementara metode merupakan cara mengerjakan sesuatu. Adapun metodologi yaitu langkah – langkah praktis dan sistematis yang ada dalam ilmu – ilmu tertentu yang sudah tidak dipertanyakan lagi karena sudah bersifat aplikatif.[6]
adapun pendekatan dalam studi islam adalah sebagai berikut :
1.      Pendekatan historis
Meninjau suatu permasalahan dari sudut tinjauan sejarah dan menjawab permasalahan serta menganalisanya dengan menggunakan metode analisis sejarah.
2.      Pendekatan filosofis
Melihat suatu permasalahan dari sudut tinjauan filsafat dan berusaha menjawab dan memecahkan permasalahan itu dengan analisis spekulatif.
3.      Pendekatan ilmiah
Meninjau dan mengalisis suatu permasalahan atau objek studi dengan menggunakan metode ilmiah pada umumnya.
4.      Pendekatan doktriner/pendekatan studi islam secara konvensional
Pendekatan studi dikalangan ummat islam bahwa agama islam sebagai objek studi yang diayakini sebagai sesuatu yang suci dan merupakan doktrin doktrin yang berasal dari Ilahi yang mempunyai nilai kebenaran absolut, mutlak, dan universal.[7]

B.   Arti dan Ruang Lingkup Studi Islam
Istilah studi Islam dalam bahasa Inggris adalah Islamic Studies, dan dalam bahasa Arab adalah Dirasat al – Islamiyah. Ditinjau dari sisi pengertian, studi islam secara sederhana dimaknai sebagai “kajian Islam”. Pengertian studi Islam sebagai kajian Islam sesungguhnya memiliki cakupan makna dan pengertian yang luas.[8]

Studi keIslaman di kalangan umat Islam sendirinya tentunya sangat berbeda tujuan dan motivasinya dengan yang dilakukan oleh orang – orang di luar kalangan umat Islam. Di kalangan umat Islam, studi keIslaman bertujuan untuk memahami dan mendalami serta membahas ajaran – ajaran Islam agar mereka dapat melaksanakan dan mengamalkannya dengan benar.
Kata studi Islam merupakan gabungan dari dua kata, yaitu kata studi dan kata Islam. Kata studi memiliki berbagai pengertian. Rumusan Lester Crow dan Alice Crow menemukan bahwa studi adalah kegiatan yang secara sengaja diusahakan dengan maksud untuk memperoleh keterangan, mencapai pemahaman yang lebih besar, atau meningkatkan suatu keterampilan.[9]
Studi Islam merupakan suatu disiplin ilmu yang ruang lingkup studi keIslaman dalam tradisi sarjana barat meliputi pembahasan tentang ajaran, pemikiran, teks, sejarah dan institusi keIslama.

C.   Urgensi Mempelajari Metodologi Studi Islam
Studi Islam dituntut untuk membuka diri terhadapmasuknya dan digunakannya pendekatan-pendekatan yang bersifat objektif dan rasional. Dan secara bertahap meninggalkan pendekatan yang bersifat subjektif doktriner, dengan demikian diharapkan studi Islam akan berkembang dan mampu beradaptasi dengan sunia moderen serta mampu menjawab tantangan kehidupan dunia dan budaya modern.[10]
Mukti Ali mengingatkan bahwa metodologi adalah masalah yang sangat penting dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan. Metode kognitif yang benar untuk mencari kebenaran adalah lebih penting daripada filsafat dan sains. Lebih jauh ia menambahkan bahwa pada abad pertengahan, Eropa menghabiskan limit waktu seribu tahun dalam keadaan stagnasi. Tetapi keadaan yang stagnan tersebut akhirnya berubah menjadi kebangkitan revolusioner multy faces dalam bidang sains, seni, sastra juga semua wilayah hidup dan kehidupan manusia dan sosial. Revolusi yang mendadak dan energi yang meledak dalam pemikiran manusia itu menghasilkan sebuah peradaban besar yang begitu menakjubkan dalam bidang kemajuan ilmu pengetahuan.[11]
Sejak kedatangan Islam pada abad ke-13 M. Hingga sat ini, fenomena pemahaman keIslaman umat Islam Indonesia masih ditandai oleh keadaan amat variatif. Kita tidak tahu persis apakah kondisi demikian itu merupakan sesuatu yang alami yang harus diterima sebagai suatu kenyataan untuk diambil hikmahnya, ataukah diperlukan adanya standar umum yang perlu diterapkan dan diberlakukan kepada berbagai paham keagamaan yang variatif itu, sehingga walaupun keadaannya amat bervariasi tetapi tidak keluar dari ajaran yang terkandung dalam Alquran dan Al-Sunnah serta sejalan dengan data-data historis yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya.[12]
Misalnya kita melihat adanya sejumlah orang yang pengetahuannya tentang keIslaman cukup luas dan mendalam, namun tidak terkoordinasikan dan tidak tersusun secara sistematik. Hal ini disebabkan karena orang tersebut ketika menerima ajaran Islam tidak sistematik dan tidak terorganisasikan secara baik.
Selanjutnya kita melihat pula ada orang yang  penguasaannya terhadap salah satu bidang keilmuwan cukup mendalam, tetapi kurang memahami disiplin ilmu keikhlasan lainnya, bahkan yang bukan merupakan keahliannya itu dianggap sebagai ilmu yang kelasnya berada di bawah kelas ilmu yang dipelajarinya.
Pada tahap berikutnya, yang pernah menjadi primadona masyarakat adalah Ilmu Kalam (Teologi), sehingga setiap masalah yang dihadapinya selalu dilihat dari paradigma teologi. Lebih dari itu teologi yang dipelajarinya pun hanya berpusat pada paham Asy’ari dan Maturidiah (Sunni), sedangkan paham lainnya dianggap sebagai sesat. Akibat dari keadaan demikian, maka tidak terjadi dialog, keterbukaan, saling menghargai, dam sebagainya.[13]
Setelah itu muncul pula paham keislaman bercorak tasawuf yang sudah mengambil bentuk tarikat yang terkesan kurang menampilkan pola hidup yang seimbang antara urusan duniawi dan urusan ukhrawi. Dalam tasawuf ini, kehidupan dunia terkesan diabaikan. Umat terlalu mementingkan urusan akkhirat., sedangkan urusan duniawi menjadi terbengkalai. Akibatnya keadaan umat menjadi mundur dalam bidang keduniaan, materi, dan fasilitas hidup lainnya.
Dari beberapa contoh tentang pemahaman keIslaman di atas, kita dapat memperoleh kesan bahwa hingga saat ini pemahaman Islam yang terjadi di masyarakat masih bercorak parsial, belum utuh dan belum pula komperhensif. Dan sekalipun kita menjumpai adanya pemahaman Islam yang sudah utuh dan komperhensif, namun semuanya itu belum tersosialisasikan secara merata ke seluruh masayarakat Islam.[14]
Disinilah letak urgensi studi Islam, untuk menggali kembali ajaran-ajaran islam yang asli dan murni, dan yang bersifat manusiawi dan universal, yang mempunyai daya untuk mewujudkan dirinya sebagai rahmah li al’amin. Dari situ kemudian ditransformasikan kepada generasi penerusnya; dihadapkan dengan budaya dan peradaban modern, agar mampu bertahapan dan beradaptasi dengannya.[15]
D.   Studi Islam
Di kalangan para ahli masih terdapat perdebatan di sekitar permasalahan apakah studi Islam (agama) dapat dimasukkan ke dalam bidang ilmu pengetahuan, mengingat sifat dan karakteristik antara ilmu pengetahuan dan agama berbeda. Pembahasan di sekitar permasalahan ini banyak dikemukakan oleh para pemikir Islam belakangan ini.[16]
Dengan demikian secara sederhana dapat ditemukan jawabannya bahwa dilihat dari segi normatif sebagaimana yang terdapat dalam Alquran dan hadis, maka Islam lebih merupakan agama yang tidak dapat diberlakukan kepadanya paradigma ilmu pengetahuan, yaitu paradigma analitis, kritis, metodologis, historis, dan empiris. Sebagai agama, Islam lebih bersifat memihak, romantis, apologis, dan subjektif, sedangkan jika dilihat dari segi historis, yakni Islam dalam arti yang dipraktikkan oleh manusia serta tumbuh dan berkembang dalam sejarah kehidupan manusia, maka Islam dapat dikatakan sebagai sebuah disiplin ilmu, yakni Ilmu KeIslaman atau Islam Studies.
Perbedaan dalam melihat Islam yang demikian itu dapat menimbulkan perbedaan dalam menjelaskan Islam itu sendiri. Ketika Islam dilihat dari sudut normatif, Islam merupakan agama yang di dalamnya berisi ajaran Tuhan yang berkaitan dengan urusan akidah dan muamalah. Sedangkan ketika Islam dilihat dari sudut historis atau sebagaimana yang tampak dalam masyarakat, Islam tampil sebuah disiplin ilmu.[17]
Adapun arah dan tujuan studi Islam dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Untuk mempelajari secara mendalam tentang apa sebenarnya (hakikat) agama Islam itu, dan bagaimana posisi serta hubungannya dengan agama-agama lain dalam kehidupan budaya manusia.
2.      Untuk mempelajari secara mendalam pokok-pokok isi ajaran agama Islam yang asli, dan bagaimana penjabaran dan operasionalisasinya dalam pertumbuhan dan perkembangan budaya dan peradaban Islam sepanjang sejarahnya.
3.      Untuk mempelajari secara mendalam sumber dasar ajaran agama islam yang tetap abadai dan dinamis, dan bagaimana aktualisasinya sepanjang sejarahnya.
4.      Untuk mempelajari secara mendalam prinsip-prinsip dan nilai-nilai dasar ajaran agama Islam, dan bagaimana realisasinya dalam membimbing dan mengarahkan serta mengontrol perkembangan budaya dan peradaban manusia pada zaman modern ini.[18]



E.   Metode dan Pendekatan Kajian Islam
1.      Pengetahuan Manusia Secara Umum
Manusia dalam kehidupannya mempunyai kebutuhan yang banyak sekali. Adanya kebutuhan hidup inilah yang mendorong manusia untuk melakukan berbagai tindakan dalam rangka pemenuhan kebutuhan tersebut.
Manusia memiliki pengetahuan yang merupakan alat untuk melaksanakan segala aktivitas dalam kehidupan sehari – hari, tanpa pengetahuan manusia akan mengalami kendala – kendala dalam menyelesaikan persoalannya. Pengetahuan dimulai dari rasa ingin tahu, yang merupakan ciri khas manusia karena manusia merupakan makhluk yang tidak pernah puas dalam mengembangkan pengetahuan yang dilakukan secara sungguh – sungguh.
Ciri yang membedakan manusia dari makhluk lain ada pada kepastiannya untuk selalu berpikir. Berpikir dipacu oleh keingintahuan, manusia ingin tahu jawaban dari semua pertanyaan hidup yang dihadapinya, ia ingin tahu kebenaran dari segala sesuatu yang ditemuinya.[19]
2.      Rasa Ingin Tahu Manusia
Untuk memenuhi keingintahuannya manusia berusaha untuk mencari pengetahuan dengan berbagai upaya.
a.       Trial and Error
Trial and error merupakan metode coba-coba, yaitu manusia melakukan percobaan terhadap sesuatu tanpa melakukan langkah –langkah/desain secara ilmiah untuk menemukan suatu kebenaran.
b.      Common Sense
Common sense merupakan anngapan umum, yaitu kebenaran atas dasar penglihatan dan secara kebiasaan bahwa penglihatan itu (objek) merupakan gejala atau tanda akan terjadi sesuatu.
c.       Akal
Manusia merupakan makhluk yang berakal yang dapat mempergunakan daya berpikirnya untuk memahami berbagai aspek dalam kehidupannya dan menentukan reaksinya.
d.      Pengalaman
Menurut C.A. Van Peursen, pengetahuan empiris melalui pengalaman pribadi, melihat, mendengar, merasakan, menduga dalam suasana jiwa.
e.       Ilham
Untuk memperoleh pengetahuan melalui inspirasi ini dapat dilakukan dengan mencari pengalaman terlebih dahulu, membaca buku, pengalaman pribadi dan lain – lain. Maka dapat dikatakan bahwa pengetahuan yang diperoleh melalui inspirasi ialah pengetahuan yang disertai ide.
f.       Wahyu
Wahyu merupakan sumber ilmu yang disampaikan Allah kepada manusia dengan perantara rasul. Wahyu merupakan firman Allah, sedangkan isi wahyu berupa pengetahuan yang diturunkan oleh Allah kepada manusia melalui nabi dan rasulnya.[20]

















BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Metodologis Studi Islam (MSI)  sebagai sebuah mata kuliah umum yang harus dipelajari oleh setiap mahasiswa di perguruan tinggi islam dan merupakan salah satu disiplin ilmu yang mengkaji khazanah studi – studi dasar keislaman baik klasik maupun modern dengan pendekatan metodologis seadanya. Dikatakan seadanya karena memang dalam tataran praktisnya di perkuliahan, tidak selamanya Studi Islam ini dibahas secara metodik sesuai dengan tuntunan disiplin tersebut. Banyak variabel yang menjadi penyebab, di antaranya faktor ketiadaan program pengajaran yang baku dan mengacu ke arah yang lebih metodologis. Penyebab lainnya adalah dari segi kemampuan tenaga pengajar yang masih terbatas dari segi rekayasa pendekatan dalam proses belajar – mengajar, sehingga terkadang di antara mereka ada yang tidak mampu membahas secara lebih metodologis.
Dengan kata lain, maka kuliah MSI adalah sebagai pengantar umum tentang khazanah ilmu – ilmu pengetahuan dasar keislaman yang diperuntukkan sebagai pengenalan awal (studi dasar) bagi semua mahasiswa sebelum melangkah kedalam  kajian disiplin – disiplin ilmu khusus sesuai dengan bidang kajian masing – masing jurusan yang ada di perguruan tinggi islam.
B.     SARAN
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, banyak sekali sisi sisi kekurangan yang memerlukan perbaikan. Sehubungan dengan hal tersebut, maka segala kritik dan saran sangat diharapkan untuk perbaikan makalah selanjutnya. Dan semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca khususnya kepada kawan kawan mahasiswa yang sedang mempelajari metodologi studi islam.


DAFTAR PUSTAKA

Ananda, Faisar. 2015. Metode Studi Islam: Jalan Tengah Memahami Islam. Jakarta:           Rajagrafindo Persada
Batubara, Chuzaimah. 2018. Handbook Metodologi Studi Islam. Jakarta: Prenadamedia  Group
Hanafiah, Muhibuddin. 2011. Revitalisasi Metodologi Studi Islam: Suatu Pendekatan Terhadap Studi Ilmu Ilmu Keislaman. Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA.Vol. 11. No. 2. Hlm. 297
Mudzhar, Atho. 1998. Pendekatan Studi Islam Dalam Teori Dan Praktek. Yogyakarta: Pustaka pelajar
Muhaimin. 2005. Studi Islam Dalam Ragam Dimensi Dan Pendekatan. Jakarta: Prenadamedia Group
Nata, Abuddin. 2014. Metodologi Studi Islam. Jakarta: Rajawali Press



[1] Chuzaimah Batubara, Handbook Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2018), Hlm. 1
[2] Muhaimin, Studi Islam Dalam Ragam Dimensi Dan Pendekatan,(Jakarta: Prenadamedia Group, 2005),      Hlm. 15-17
[3] Chuzaimah Batubara, Handbook Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2018), Hlm. 3
[4] Muhibuddin Hanafiah, Revitalisasi Metodologi Studi Islam: Suatu Pendekatan Terhadap Studi Ilmu Ilmu Keislaman, Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA, 2011, Vol. 11, No. 2, Hlm. 297
[5] Chuzaimah Batubara, Handbook Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2018), Hlm. 3
[6] Ibid.
[7] Muhaimin, Studi Islam Dalam Ragam Dimensi Dan Pendekatan,(Jakarta: Prenadamedia Group, 2005), Hlm. 12-14
[8] Chuzaimah Batubara, Handbook Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2018), Hlm. 4
[9] Ibid
[10] Muhaimin, Studi Islam Dalam Ragam Dimensi Dan Pendekatan,(Jakarta: Prenadamedia Group, 2005), Hlm. 3
[11] Muhibuddin Hanafiah, Revitalisasi Metodologi Studi Islam: Suatu Pendekatan Terhadap Studi Ilmu Ilmu Keislaman, Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA, 2011, Vol. 11, No. 2, Hlm. 295-296
[12] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 2014), Hlm. 143
[13] Ibid, Hlm. 144
[14] Ibid, Hlm. 145
[15] Atho Mudzhar, Pendekatan Studi Islam Dalam Teori Dan Praktek,(Yogyakarta: Pustaka pelajar, 1998), Hlm. 37
[16] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 2014), Hlm. 150
[17] Ibid, Hlm. 151
[18] Muhaimin, Studi Islam Dalam Ragam Dimensi Dan Pendekatan,(Jakarta: Prenadamedia Group, 2005), Hlm. 9-11
[19] Faisar Ananda, Metode Studi Islam: Jalan Tengah Memahami Islam,(Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2015), Hlm. 1
[20] Ibid, Hlm. 2-5

No comments:

Post a Comment