Monday, October 28, 2019

MODEL PERMINTAAN DAN PENAWARAN UANG STATIS, KLASIK, DAN KEYNESIAN


MODEL PERMINTAAN DAN PENAWARAN UANG STATIS, KLASIK, DAN KEYNESIAN

Disusun Guna Memenuhi Tugas Kelompok
Mata Kuliah: Ekonomi Moneter Keuangan
Dosen Pembimbing: Atika, M.E

Disusun Oleh:
Kelompok VI
                            Anisa Sihombing                           (0503171021)
                            Anisa Zulfa Kamilia                      (0503171074)
                            Claudio Ramadona                        (0503173318)
                            Muhammad Ali Imran Caniago     (0503171084)



PERBANKAN SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
TAHUN AJARAN 2018/2019

KATA PENGANTAR
Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan segala kuasa-Nyalah penulis akhirnya bisa menyusun Makalah yang berjudul “Syirkah” ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Rasa terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Atika, M. E selaku pembimbing yang telah memberikan banyak masukan serta saran yang sangat bermanfaat dalam proses penyelesaian makalah ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah turut serta membantu menyumbangkan pikirannya yang tidak bisa penulis sebutkan satu-per satu.
Penulis sangat berharap agar makalah ini memberi banyak manfaat bagi para pembaca sehingga dapat menambah ilmu dan pengetahuan tentang Model Permintaan dan Penawaran Uang Statis, Klasik, Dan Keynesian. Penulis juga sangat mengharapkan masukan, kritikan serta saran dari semua pihak agar makalah ini bisa menjadi lebih sempurna.



Medan, 28 Maret 2019
     
        Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar……………………………………………………………………………..…i
Daftar Isi...……………………………………………………………………………………ii

Bab I Pendahuluan
1.1  Latar Belakang……………………………………………………………….……1
1.2  Rumusan Masalah……………………………………………………………...….1
1.3  Tujuan……………………………………………………………………………..1

Bab II Pembahasan
            2.1 Model Permintaan Uang………………………………………………………...…2
            2.2 Model Penawaran Uang………………………………………………………...…7
            2.3 Model Statis Klasik Keynesian…….…………………………………...…………7
           
Bab III Penutup
3.1  Kesimpulan……………………………………………………………………….11

Daftar Pustaka
                                                        



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Uang merupakan sesuatu benda yang diterima secara umum oleh masyarakat, sehingga untuk melakukan transaksi ekonomi tidak mengalami kesulitan, karena salah satu fungsi dari uang adalah sebagai standar nilai, maka seluruh barang atau jasa dinilai dengan satuan uang. Uang merupakan unsur terpenting dalam suatu sistem perekonomian modern. Kehadiran uang sudah melembaga dalam masyarakat sehingga segala aktifitas masyarakat dipengaruhi, diukur, dan banyak ditentukan oleh uang. Dengan adanya uang transaksi yang dilakukan oleh manusia menjadi lebih mudah, cepat, dan tidak terlalu dibatasi oleh dimensi waktu. Pengertian permintaan akan uang didefinisikan sebagai keseluruhan jumlah uang yang ingin dipegang oleh masyarakat dan perusahaan. Yang dipengaruhi oleh pendapatan riil.
Semakin tinggi pandapatan seseorang permintaan akan uang akan semakin besar. Hal ini dikarenakan konsumsi dan tabungan akan bertambah seiring dengan meningkatnya pendapatan. Selain pendapatan riil, tingkat suku bunga juga merupakan faktor yang mempengaruhi permintaan akan uang semakin tinggi, permintaan uang untuk motif spekulasi akan berkurang. Tingginya suku bunga akan membuat biaya pinjaman uang untuk berspekulasi bertambah mahal. Selain itu jika tingkat suku bunga tinggi, orang akan lebih baik menabung di bank dengan jaminan suku bunga yang ada dari pada berspekulasi. Tingkat harga umum merupakan faktor ketiga dalam konsep permintaan akan uang.
Semakin tinggi tingkat harga umum, permintaan akan uang akan semakin bertambah. Hal ini dikarenakan harga barang atau jasa bertambah mahal, sehingga dibutuhkan lebih bnayak uang untuk membelinya. Pengeluaran konsumen, faktor terakhir dalam konsep permintaan akan uang ini menjelaskan misalnya, pengeluaran konsumen pada bulan-bulan menjelang puasa, lebaran, atau hari lainnya akan bertambah akibatnya permintaan uang juga akan bertambah.
Maka dari itu kami tertarik untuk membahas mengenai Model Permintaan danPenawaran Uang Statis, Klasik, dan Keynesian.



1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana model Permintaan Uang
2.      Bagaimana model Penawaran Uang
3.      Bagaimana model Statis Klasik, dan Keynesian


1.3  Tujuan
1.      Untuk mengetahui model Permintaan Uang
2.      Untuk mengetahui model Penawaran Uang
3.      Untuk mengetahui model Statis Klasik, dan Keynesian





















BAB II
PEMBAHASAN

1.1   Model Permintaan Uang
Permintaan uang adalah kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai. Menurut J.M. Keynes ada tiga motif yang mendasari adanya permintaan terhadap uang, yaitu :[1]
  1. Motif transaksi, atau transaction motive
  2. Motif berjaga-jaga, atau precautionary motive
  3. Motif spekulasi, atau speculative motive

Model Permintaan Uang Motif Transaksi. 
Permintaan uang untuk transaksi dipengaruhi oleh tinggi rendahnya tingkat pendapatan nasional. Jika ditulis dalam bentuk persamaan adalah:
Lt = Lt (Y)
Lt = permintaan uang berdasarkan motif transaksi
Y = pendapatan nasional

Persamaan ini memberikan hubungan yang positif antara permintaan uang yang diperlukan untuk transaksi dengan pendapatan nasional. Dengan meningkatnya pendapatan nasional, maka kebutuhan uang untuk transaksi meningkat. Atau dengan kata lain, persamaan ini menunjukkan pengaruh pendapatan nasional terhadap permintaan uang motif transaksi.[2]
Jika pendapatan seseorang meningkat, maka uang yang dibutuhkan untuk bertraksaksipun meninggkat. Atau sebaliknya, jika pendapatan seseorang menurun, maka uang digunakan untuk transaksipun menurun. Seandainya seluruh permintaan uang individual dalam suatu perekonomian dijumlahkan, maka nilai uang tersebut merupakan permintaan agregat terhadap transaksi, yang tidak lain merupakan pendapatan nasional.
Secara sederhana persamaan permintaan uang dapat digambarkan dalam grafik sebagai berikut:[3]
Model-Fungsi Permintaan Uang Motif Transaksi
Model-Fungsi Permintaan Uang Motif Transaksi
Sumbu datar menyatakan tingkat pendapatan nasional, sedangkan sumbu tegak merupakan tingkat kebutuhan uang untuk transaksi. Pada tingkat pendapatan nasional Y0 kebutuhan uang untuk transaksi sebesar Lt0. Bilai pendapatan nasional naik menjadi Y1 maka kebutuhan uang untuk transaksi naik menjadi Lt1.
Dari penjelasan tersebut diketahui, bahwa semaking tinggi tingkat pendapatan suatu negara, maka semakin tinggi pula kebutuhan uang untuk transaksi. Begitupun sebaliknya, semakin rendah tingkat pendapatan suatu negara, maka semakin sedikit kebutuhan uang untuk transaksi.
Permintaan uang dengan motif berjaga-jaga dipengaruhi oleh faktor yang sama seperti faktor yang mempengaruhi permintaan uang untuk transaksi, yaitu tinggi rendahnya pendapatan nasional. Secara agragat, jika tingkat pendapatan nasional suatu negara naik, maka permintaan uang untuk berjaga-jaga juga naik. Sebaliknya, jika tingkat pendapatan nasional rendah, maka permintaan uang untuk berjaga-jaga juga rendah.

Model Permintaan Uang Motif Berjaga-Jaga
Permintaan uang dengan motif berjaga-jaga dapat ditulis dalam bentuk persamaan sebagai berikut:
Lj = Lj (Y)
Lj = permintaan uang untuk berjaga-jaga
Y = pendapatan nasional
Jika digambarkan dalam bentuk kurva dapat dilihat seperti dalam gambar di bawah:[4]
Model-Fungsi Permintaan Uang Motif Berjaga-Jaga
Model-Fungsi Permintaan Uang Motif Berjaga-Jaga
Karena kedua persamaan permintaan uang tersebut dipengaruhi factor yang sama, yaitu sama-sama pendapatan nasional, maka kedua persamaan perminataan uang tersebut dapat digabungkan menjadi:
L1 = Lt  = Lj
L1 = Lt (Y) = Lj (Y) atau
L1 = L1 (Y)

Model-Fungsi Permintaan Uang
Persamaan yang menyatakan permintaan uang untuk transaksi dan berjaga-jaga dapat dinyatakan dengan:
L1 = L1 (Y)

Persamaan matematis tersebut merupakan fungsi permintaan uang, atau money demand function yang belum secara jelas menyatakan variabel apa yang menentukan kuatitas keseimbangan uang riil yang ingin dipegang atau ditahan seseorang.
Fungsi matematis sederhana yang menyatakan permintaan uang dan dapat menentukan kuantitas uang riil yang ingin dipegang atau ditahan diformulasikan sebagai berikut:
(M/P)d = k Y

M/P adalah keseimbangan uang riil, atau real money balance. Keseimbangan uang riil mengukur daya beli dari persedian uang. Sebagai contoh pada suatu perekonomian yang hanya memproduksi satu jenis barang saja, misalkan hanya memproduksi beras. Perekonomian tersebut, memiliki kuantitas uang sebesar 100.000 rupiah, dan harga beras 10.000 rupiah per kilogram. Maka keseimbangan uang riil adalah:
M/P = Rp 100.000/ Rp 10.000 per kilogram = 10 kilogram

Jadi keseimbangan uang rill perekonomian tersebut adalah 10 kilogram beras. Hal ini menjelaskan, pada harga berlaku, persediaan uang dalam perekonomian mampu dibelikan 10 kilogram beras. Notasi k dalam persamaan permintaan uang di atas adalah konstanta yang menunjukkan seberapa banyak uang yang ingin dipegang atau ditahan seseorang untuk tiap rupiah pendapatan. Sedangkan Y menyatakan output total dari perekonomian, atau pendapatan total, atau pendapatan riil.
Dari persamaan dapat diketahui, bahwa kuantitas keseimbangan uang riil yang diinginkan proposional terhadap pendapatan riil. Ketika persyaratan fungsi keseimbangan uang riil (M/P)d sama dengan M/P maka formula keseimbangan uang rill menjadi:
(MP)d = k Y, jika (M/P)d sama dengan M/P, maka
M/P = k Y, dan jika disederhanakan menjadi:
M(1/k) = PY dan jika 1/k adalah V, maka
MV = PY, ini adalah persamaan kuantitas, atau quantity equation

Hubungan V = 1/k menyatakan keterkaitan antara permintaan terhadap uang dengan perputaran uang. Jika seseorang lebih banyak membelanjakan uang untuk setiap rupiah pendapatannya, maka k menjadi kecil. Jika k kecil, maka nilai V menjadi besar. Nilai V besar menunjukkan perputaran uang tinggi. Artinya, uang sering pindah tangan.
Sebaliknya jika seseorang bekeinginan lebih banyak menyimpan uang pendapatannya, maka nilai k menjadi besar. Jika nilai k besar, maka nilai V menjadi kecil. Nilai V kecil menunjukkan perputaran uang rendah. Artinya uang jarang berpindah tangan, atau uang jarang ditransaksikan.
Dari penjelasan di atas diketahui bahwa permintaan uang k dan perputaran uang V memiliki peran yang berlawanan dari mata uang yang sama.

1.2  Model Penawaran Uang
Model penawaran uang bertujuan menganalisis factor-faktor penentu penawaran uang. Penawaran uang merupakan otoritas moneter akan tetapi otoritas meneter tidak mampu mengendalikan penawaran uang sacara total.  Perilaku bank-bank komersial dalam mengelolah aset dan kewajibannya turut memengeruhi penawaran uang.[5]
1.        Model Dasar Penawaran Uang
Jumlah stok uang oleh bank sentral merupakan penjualan mata uang uang yang beredar [C] dengan deposito giro bank-bank komersial  [D], yaitu:
M = C/D



1.3  Model Statis Klasik, Dan Keynesian
1. Teori Liquidity Preference Keynes
Menurut Teori Keynes ada tiga motivasi orang memegang uang, yaitu untuk transaksi, berjaga-jaga, dan memperoleh keuntungan (spekulasi). [6]
a)      Motif Transaksi
Masyarakat memegang uang dengan tujuan untuk mempermudah kegiatan transaksi sehari-hari. Contohnya, kalau kita ingin membeli pensil di koperasi bayarnya harus dengan uang cash  (transaksi jual beli).

b)      Motif Berjaga-jaga
Arti dari berjaga-jaga disini adalah untuk persiapan menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan atau yang tidak terduga. Misalnya, sakit atau mengalami kecelakaan kalau tidak punya tabungan, dan simpanan uang akan susah melakukan membayarannya.

c)      Motif Mendapatkan Keuntungan
Nama lain dari motif ini adalah motivasi spekulasi. Misalnya, Anis membeli emas saat harga emas sedang rendah dan menjualnya kembali saat harga emas tersebut naik. Maka, disinilah maksud dari sepkulan, selisih harga beli dan jual dapat menghasilkan keuntungan.


 2. Teori Kuantitas (Klasik)
Pemikiran tentang keadaan ekonomi yang benar benar didesak oleh keadaan masyarakat zamannya. Kemudian menyusun teori ekonomiyang dapat menolong memberi jawabannya. Adapun tokoh tokoh dalam teoriini ialah Adam Smith, David Ricardo, Thomas Robert, Malthus dan Karl Mark. Teori klasik ini membahas tentang hubungan antara penawaran dan permintaan, menitikberatkan uang dari sudut pandang kuantitas. Dalam teori ini muncul dua pandangan dari dua tokoh besar yaitu David Ricardo dan Irving Fisher.[7]

Teori penawaran uang
Penawaran uang yang merupakan jumlah uang yang beredar di masyarakat.
a. Teori Penawaran Uang Tanpa Bank
Teori ini merupakan gambaran dari sistem standar emas, ketika emas menjadi satu-satunya alat pembayaran. Jumlah uang beredar atau uang yang ditawarkan di masyarakat naik atau turun sesuai dengan tersedianya emas di masyarakat.

b. Teori Penawaran Uang Modern
Dalam sistem standar kertas dengan otoritas moneter yakni Bank Sentral yang memproduksi uang primer. Lembaga keuangan (perbankan) merupakan produsen uang sekunder bagi masyarakat. Keduanya berhubungan sangat erat karena uang sekunder (uang giral) hanya bisa tumbuh karena ada uang primer.







BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Permintaan uang adalah kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai. Menurut J.M. Keynes ada tiga motif yang mendasari adanya permintaan terhadap uang, yaitu : Motif transaksi, atau transaction motive, motif berjaga-jaga, atau precautionary motive, motif spekulasi, atau speculative motive. Model penawaran uang bertujuan menganalisis factor-faktor penentu penawaran uang. Penawaran uang merupakan otoritas moneter akan tetapi otoritas meneter tidak mampu mengendalikan penawaran uang sacara total.


























DAFTAR PUSTAKA

Akhand Akhtar Hossain, 2010, Bank Sentral dan Kebijakan Moneter di Asia Pasifik, Rajawali Pres, Jakarta.
Mankiw, N. G., 2003, Teori Makroekonomi, Edisi Kelima, Erlanga, Jakarta.
Natsir, 2014, Ekonomi Moneter dan Kesentralan, MitraWacana Media, Jakarta.
Rohmana, Y., Ahman, E. H., 2007, Ilmu Ekonomi Dalam PIPS, Edisi 2, Unversitas Terbuka, Jakarta.









[1] G. Mankiw, N., Teori Makroekonomi, Edisi Kelima, 2003, Jakarta: Erlanga, hlm. 98.
[2]Y. Rohmana, H., Ahman, E., Ilmu Ekonomi Dalam PIPS, Edisi 2, Jakarta: Unversitas Terbuka, 2007, hlm. 102.

[3] Ibid., hlm. 105.

[4] Ibid., hlm. 108.
[5] Akhand Akhtar Hossain, Bank Sentral dan Kebijakan Moneter di Asia Pasifik, Jakarta: Rajawali Pres, 2010,  hlm. 317.
[6] Natsir, Ekonomi Moneter dan Kesentralan, Jakarta: MitraWacana Media, 2014, hlm. 57.
[7] Op. cit., Akhand Akhtar Hossain, Bank Sentral dan Kebijakan Moneter di Asia Pasifik, hlm. 317.

No comments:

Post a Comment