MODEL PERMINTAAN DAN PENAWARAN
UANG STATIS, KLASIK, DAN KEYNESIAN
Disusun Guna Memenuhi Tugas Kelompok
Mata Kuliah: Ekonomi Moneter Keuangan
Dosen Pembimbing: Atika, M.E
Disusun Oleh:
Kelompok VI
Anisa
Sihombing (0503171021)
Anisa
Zulfa Kamilia (0503171074)
Claudio
Ramadona (0503173318)
Muhammad
Ali Imran Caniago (0503171084)

PERBANKAN SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA
UTARA
TAHUN AJARAN 2018/2019
KATA
PENGANTAR
Puji syukur
alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
segala kuasa-Nyalah penulis akhirnya bisa menyusun Makalah yang berjudul “Syirkah”
ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Rasa terima
kasih penulis ucapkan kepada Ibu Atika, M. E selaku pembimbing yang telah
memberikan banyak masukan serta saran yang sangat bermanfaat dalam proses
penyelesaian makalah ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah turut serta membantu menyumbangkan pikirannya yang tidak bisa
penulis sebutkan satu-per satu.
Penulis sangat
berharap agar makalah ini memberi banyak manfaat bagi para pembaca sehingga
dapat menambah ilmu dan pengetahuan tentang Model Permintaan dan Penawaran
Uang Statis, Klasik, Dan Keynesian. Penulis juga sangat mengharapkan
masukan, kritikan serta saran dari semua pihak agar makalah ini bisa menjadi
lebih sempurna.
Medan, 28
Maret 2019
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar……………………………………………………………………………..…i
Daftar Isi...……………………………………………………………………………………ii
Bab I Pendahuluan
1.1
Latar
Belakang……………………………………………………………….……1
1.2
Rumusan
Masalah……………………………………………………………...….1
1.3
Tujuan……………………………………………………………………………..1
Bab II Pembahasan
2.1 Model
Permintaan Uang………………………………………………………...…2
2.2 Model
Penawaran Uang………………………………………………………...…7
2.3
Model Statis Klasik Keynesian…….…………………………………...…………7
Bab III Penutup
3.1 Kesimpulan……………………………………………………………………….11
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Uang merupakan sesuatu benda yang diterima secara umum oleh
masyarakat, sehingga untuk melakukan transaksi ekonomi tidak mengalami
kesulitan, karena salah satu fungsi dari uang adalah sebagai standar nilai,
maka seluruh barang atau jasa dinilai dengan satuan uang. Uang merupakan unsur
terpenting dalam suatu sistem perekonomian modern. Kehadiran uang sudah
melembaga dalam masyarakat sehingga segala aktifitas masyarakat dipengaruhi,
diukur, dan banyak ditentukan oleh uang. Dengan adanya uang transaksi yang
dilakukan oleh manusia menjadi lebih mudah, cepat, dan tidak terlalu dibatasi
oleh dimensi waktu. Pengertian permintaan akan uang didefinisikan sebagai
keseluruhan jumlah uang yang ingin dipegang oleh masyarakat dan perusahaan.
Yang dipengaruhi oleh pendapatan riil.
Semakin tinggi pandapatan seseorang permintaan akan uang
akan semakin besar. Hal ini dikarenakan konsumsi dan tabungan akan bertambah
seiring dengan meningkatnya pendapatan. Selain pendapatan riil, tingkat suku
bunga juga merupakan faktor yang mempengaruhi permintaan akan uang semakin
tinggi, permintaan uang untuk motif spekulasi akan berkurang. Tingginya suku
bunga akan membuat biaya pinjaman uang untuk berspekulasi bertambah mahal.
Selain itu jika tingkat suku bunga tinggi, orang akan lebih baik menabung di
bank dengan jaminan suku bunga yang ada dari pada berspekulasi. Tingkat harga
umum merupakan faktor ketiga dalam konsep permintaan akan uang.
Semakin tinggi tingkat harga umum, permintaan akan uang
akan semakin bertambah. Hal ini dikarenakan harga barang atau jasa bertambah
mahal, sehingga dibutuhkan lebih bnayak uang untuk membelinya. Pengeluaran
konsumen, faktor terakhir dalam konsep permintaan akan uang ini menjelaskan
misalnya, pengeluaran konsumen pada bulan-bulan menjelang puasa, lebaran, atau
hari lainnya akan bertambah akibatnya permintaan uang juga akan bertambah.
Maka dari itu kami tertarik untuk membahas mengenai Model
Permintaan danPenawaran Uang Statis, Klasik, dan Keynesian.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana model Permintaan Uang
2. Bagaimana model Penawaran Uang
3. Bagaimana model Statis Klasik, dan Keynesian
1.3 Tujuan
1.
Untuk mengetahui
model Permintaan Uang
2.
Untuk mengetahui
model Penawaran Uang
3.
Untuk
mengetahui model Statis Klasik, dan Keynesian
BAB II
PEMBAHASAN
1.1 Model Permintaan Uang
Permintaan uang adalah kebutuhan masyarakat terhadap uang
tunai. Menurut J.M. Keynes ada tiga motif yang mendasari adanya permintaan
terhadap uang, yaitu :[1]
- Motif transaksi, atau
transaction motive
- Motif berjaga-jaga, atau
precautionary motive
- Motif spekulasi, atau
speculative motive
Model
Permintaan Uang Motif Transaksi.
Permintaan uang untuk transaksi dipengaruhi oleh tinggi
rendahnya tingkat pendapatan nasional. Jika ditulis dalam bentuk persamaan
adalah:
Lt
= Lt (Y)
Lt
= permintaan uang berdasarkan motif transaksi
Y
= pendapatan nasional
Persamaan ini memberikan hubungan yang positif antara
permintaan uang yang diperlukan untuk transaksi dengan pendapatan nasional.
Dengan meningkatnya pendapatan nasional, maka kebutuhan uang untuk transaksi
meningkat. Atau dengan kata lain, persamaan ini menunjukkan pengaruh
pendapatan nasional terhadap permintaan uang motif transaksi.[2]
Jika pendapatan seseorang meningkat, maka uang yang
dibutuhkan untuk bertraksaksipun meninggkat. Atau sebaliknya, jika pendapatan
seseorang menurun, maka uang digunakan untuk transaksipun menurun. Seandainya
seluruh permintaan uang individual dalam suatu perekonomian dijumlahkan, maka
nilai uang tersebut merupakan permintaan agregat terhadap transaksi, yang tidak
lain merupakan pendapatan nasional.
Secara sederhana persamaan permintaan uang dapat digambarkan
dalam grafik sebagai berikut:[3]
Model-Fungsi
Permintaan Uang Motif Transaksi
Sumbu datar menyatakan tingkat pendapatan nasional,
sedangkan sumbu tegak merupakan tingkat kebutuhan uang untuk transaksi. Pada
tingkat pendapatan nasional Y0 kebutuhan uang untuk transaksi
sebesar Lt0. Bilai pendapatan nasional naik menjadi Y1
maka kebutuhan uang untuk transaksi naik menjadi Lt1.
Dari penjelasan tersebut diketahui, bahwa semaking tinggi
tingkat pendapatan suatu negara, maka semakin tinggi pula kebutuhan uang untuk
transaksi. Begitupun sebaliknya, semakin rendah tingkat pendapatan suatu
negara, maka semakin sedikit kebutuhan uang untuk transaksi.
Permintaan
uang dengan motif berjaga-jaga dipengaruhi oleh faktor yang sama seperti faktor
yang mempengaruhi permintaan uang untuk transaksi, yaitu tinggi rendahnya
pendapatan nasional. Secara agragat, jika tingkat pendapatan nasional suatu
negara naik, maka permintaan uang untuk berjaga-jaga juga naik. Sebaliknya,
jika tingkat pendapatan nasional rendah, maka permintaan uang untuk
berjaga-jaga juga rendah.
Model
Permintaan Uang Motif Berjaga-Jaga
Permintaan uang dengan motif berjaga-jaga dapat ditulis
dalam bentuk persamaan sebagai berikut:
Lj
= Lj (Y)
Lj
= permintaan uang untuk berjaga-jaga
Y
= pendapatan nasional
Jika digambarkan dalam bentuk kurva dapat dilihat seperti
dalam gambar di bawah:[4]
Model-Fungsi
Permintaan Uang Motif Berjaga-Jaga
Karena kedua persamaan permintaan uang tersebut dipengaruhi
factor yang sama, yaitu sama-sama pendapatan nasional, maka kedua persamaan
perminataan uang tersebut dapat digabungkan menjadi:
L1
= Lt = Lj
L1
= Lt (Y) = Lj (Y) atau
L1
= L1 (Y)
Model-Fungsi
Permintaan Uang
Persamaan yang menyatakan permintaan uang untuk transaksi
dan berjaga-jaga dapat dinyatakan dengan:
L1
= L1 (Y)
Persamaan matematis tersebut merupakan fungsi permintaan
uang, atau money demand function yang belum secara jelas menyatakan
variabel apa yang menentukan kuatitas keseimbangan uang riil yang ingin
dipegang atau ditahan seseorang.
Fungsi matematis sederhana yang menyatakan permintaan uang
dan dapat menentukan kuantitas uang riil yang ingin dipegang atau ditahan
diformulasikan sebagai berikut:
(M/P)d
= k Y
M/P adalah keseimbangan uang riil, atau real money balance.
Keseimbangan uang riil mengukur daya beli dari persedian uang. Sebagai contoh
pada suatu perekonomian yang hanya memproduksi satu jenis barang saja, misalkan
hanya memproduksi beras. Perekonomian tersebut, memiliki kuantitas uang sebesar
100.000 rupiah, dan harga beras 10.000 rupiah per kilogram. Maka keseimbangan
uang riil adalah:
M/P
= Rp 100.000/ Rp 10.000 per kilogram = 10 kilogram
Jadi keseimbangan uang rill perekonomian tersebut adalah 10
kilogram beras. Hal ini menjelaskan, pada harga berlaku, persediaan uang dalam
perekonomian mampu dibelikan 10 kilogram beras. Notasi k dalam persamaan
permintaan uang di atas adalah konstanta yang menunjukkan seberapa banyak uang
yang ingin dipegang atau ditahan seseorang untuk tiap rupiah pendapatan. Sedangkan
Y menyatakan output total dari perekonomian, atau pendapatan total, atau
pendapatan riil.
Dari persamaan dapat diketahui, bahwa kuantitas keseimbangan
uang riil yang diinginkan proposional terhadap pendapatan riil. Ketika
persyaratan fungsi keseimbangan uang riil (M/P)d sama dengan M/P
maka formula keseimbangan uang rill menjadi:
(MP)d
= k Y, jika (M/P)d sama dengan M/P, maka
M/P
= k Y, dan jika disederhanakan menjadi:
M(1/k)
= PY dan jika 1/k adalah V, maka
MV
= PY, ini adalah persamaan kuantitas, atau quantity equation
Hubungan V = 1/k menyatakan keterkaitan antara permintaan
terhadap uang dengan perputaran uang. Jika seseorang lebih banyak membelanjakan
uang untuk setiap rupiah pendapatannya, maka k menjadi kecil. Jika k kecil,
maka nilai V menjadi besar. Nilai V besar menunjukkan perputaran uang tinggi.
Artinya, uang sering pindah tangan.
Sebaliknya jika seseorang bekeinginan lebih banyak menyimpan
uang pendapatannya, maka nilai k menjadi besar. Jika nilai k besar, maka nilai
V menjadi kecil. Nilai V kecil menunjukkan perputaran uang rendah. Artinya uang
jarang berpindah tangan, atau uang jarang ditransaksikan.
Dari penjelasan di atas diketahui bahwa permintaan uang k
dan perputaran uang V memiliki peran yang berlawanan dari mata uang yang sama.
1.2 Model Penawaran Uang
Model penawaran uang bertujuan menganalisis factor-faktor
penentu penawaran uang. Penawaran uang merupakan otoritas moneter akan tetapi
otoritas meneter tidak mampu mengendalikan penawaran uang sacara total. Perilaku bank-bank komersial dalam mengelolah
aset dan kewajibannya turut memengeruhi penawaran uang.[5]
1. Model Dasar Penawaran Uang
Jumlah stok
uang oleh bank sentral merupakan penjualan mata uang uang yang beredar [C]
dengan deposito giro bank-bank komersial
[D], yaitu:
M = C/D
1.3 Model Statis Klasik, Dan Keynesian
1. Teori
Liquidity Preference Keynes
Menurut Teori
Keynes ada tiga motivasi orang memegang uang, yaitu untuk transaksi,
berjaga-jaga, dan memperoleh keuntungan (spekulasi). [6]
a) Motif Transaksi
Masyarakat memegang uang dengan tujuan untuk mempermudah
kegiatan transaksi sehari-hari. Contohnya, kalau kita ingin membeli pensil di
koperasi bayarnya harus dengan uang cash
(transaksi jual beli).
b) Motif Berjaga-jaga
Arti dari berjaga-jaga disini adalah untuk persiapan menghadapi
hal-hal yang tidak diinginkan atau yang tidak terduga. Misalnya, sakit atau
mengalami kecelakaan kalau tidak punya tabungan, dan simpanan uang akan susah
melakukan membayarannya.
c) Motif Mendapatkan Keuntungan
Nama lain dari motif ini adalah motivasi spekulasi.
Misalnya, Anis membeli emas saat harga emas sedang rendah dan menjualnya
kembali saat harga emas tersebut naik. Maka, disinilah maksud dari sepkulan,
selisih harga beli dan jual dapat menghasilkan keuntungan.
2. Teori Kuantitas (Klasik)
Pemikiran
tentang keadaan ekonomi yang benar benar didesak oleh keadaan masyarakat
zamannya. Kemudian menyusun teori ekonomiyang dapat menolong memberi
jawabannya. Adapun tokoh tokoh dalam teoriini ialah Adam Smith, David Ricardo,
Thomas Robert, Malthus dan Karl Mark. Teori klasik ini membahas tentang
hubungan antara penawaran dan permintaan, menitikberatkan uang dari sudut
pandang kuantitas. Dalam teori ini muncul dua pandangan dari dua tokoh besar
yaitu David Ricardo dan Irving Fisher.[7]
Teori
penawaran uang
Penawaran uang
yang merupakan jumlah uang yang beredar di masyarakat.
a. Teori
Penawaran Uang Tanpa Bank
Teori ini
merupakan gambaran dari sistem standar emas, ketika emas menjadi satu-satunya
alat pembayaran. Jumlah uang beredar atau uang yang ditawarkan di masyarakat
naik atau turun sesuai dengan tersedianya emas di masyarakat.
b. Teori
Penawaran Uang Modern
Dalam sistem
standar kertas dengan otoritas moneter yakni Bank Sentral yang memproduksi uang
primer. Lembaga keuangan (perbankan) merupakan produsen uang sekunder bagi
masyarakat. Keduanya berhubungan sangat erat karena uang sekunder (uang giral)
hanya bisa tumbuh karena ada uang primer.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Permintaan uang adalah kebutuhan masyarakat terhadap uang
tunai. Menurut J.M. Keynes ada tiga motif yang mendasari adanya permintaan
terhadap uang, yaitu : Motif transaksi, atau transaction motive, motif
berjaga-jaga, atau precautionary motive, motif spekulasi, atau speculative
motive. Model penawaran uang bertujuan menganalisis factor-faktor
penentu penawaran uang. Penawaran uang merupakan otoritas moneter akan tetapi
otoritas meneter tidak mampu mengendalikan penawaran uang sacara total.
DAFTAR PUSTAKA
Akhand Akhtar Hossain, 2010, Bank Sentral dan Kebijakan Moneter
di Asia Pasifik, Rajawali Pres, Jakarta.
Mankiw, N. G., 2003, Teori Makroekonomi,
Edisi Kelima, Erlanga, Jakarta.
Natsir,
2014, Ekonomi Moneter dan Kesentralan, MitraWacana Media, Jakarta.
Rohmana, Y., Ahman, E. H., 2007, Ilmu
Ekonomi Dalam PIPS, Edisi 2, Unversitas Terbuka, Jakarta.
[2]Y. Rohmana,
H., Ahman, E., Ilmu Ekonomi Dalam PIPS, Edisi 2, Jakarta: Unversitas
Terbuka, 2007, hlm. 102.
[3] Ibid., hlm. 105.
[4] Ibid., hlm. 108.
[5] Akhand Akhtar Hossain, Bank Sentral dan Kebijakan Moneter di
Asia Pasifik, Jakarta: Rajawali Pres, 2010,
hlm. 317.


No comments:
Post a Comment